Jumat, 05 Desember 2008

BIDUK KEBERSAMAAN

PERTANYAAN yang memerlukan pikiran kita untuk merenung. Kemana biduk kebersamaan ini melaju? Sampai kapan kita harus bersama? Hanya waktu yang akan menentukan sampai dimana batas waktu yang kita tempu.
Kita masih yakin biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.
Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Berada dalam biduk kebersamaan ini sungguh tidak mencemaskan, ketika ada di antara kita ada yang terluka dan tersayat. Karena ada juga di antara kita ada yang berbahagia, tertawa, dengan menikmati melajunya keuntungan dari biduk yang sedang kita jalani ini. Mereka bisa menghibur teman-teman yang masih dalam keadaan terluka atau pun tersayat.
Jika kita telah siap menempuh perjalanan panjang seperti ini, kita memerlukan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, napas panjang dan mudah memaafkan.
Dengan bekal demikian akan membuat kita berbahagia. Seseorang jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh.
Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, napas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.
Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, dengan pikiran yang jernih.
Apa rahasia lapang dada? Salah satunya adalah karena wawasan ilmu. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan peristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit berpikir lapang dada.
Jika menghadapi dunia dengan jiwa lapang, akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini.
Karena tidak semua masalah diselesaikan dengan emosional dan marah-marah. Peristiwa kecil, mengapa harus dengan marah-marah. Karena masalah itu ternyata dapat diselesaikan dengan tidak marah-marah. Tidak satu pun yang bisa melarang orang untuk marah-marah. Marah sebagai ungkapan emosi, sah-sah saja. Tapi marah yang dilakukan dalam rangka memperbaiki yang salah dan bertujuan untuk menambah nilai spiritual baginya. Marah karena nafsu duniawi justru akan merugikan bagi seseorang. Justru kita sangat khawatir kemarahan yang memang tidak perlu akan mengancam keutuhan biduk kebersamaan. Mari kita melaju dalam biduk kebersamaan untuk mencapai satu tujuan akhir. O

BATAS AKHIR

Batas Akhir

PANJANGNYA aliran sungai berkilo-kilometer, pada akhirnya akan menemui muara. Di muara menuju laut inilah batas akhir aliran sungai yang selama ini terus hanyut ke hilir. Sepanjang waktu air sungai terus mengalir, ia dengan disiplin melaknanakan ketentuan Tuhan. Tidak ada kata mengeluh, tidak ada kata menggerutu, apalagi ingin memrotes atau pun melakukan demo. Selama ini tidak pernah aliran air itu protes, tidak mau mengalir lagi. Atau pun air itu menangis, karena bosan mengalir ke hilir. Ibarat aliran air, begitu pun kehidupan manusia. Hidup manusia pun akan seimbang dan akan mengalir sesuai dengan fungsinya. Asal dari ulu ke hilir ada keseimbangan sistem. Jika pohon-pohon ditebang, hutan berubah fungsi disulap jadi gundul. Akibatnya aliran air akan meluap ke daratan, air tidak lagi mengalir ke hilir, tapi mengalir ke pemukiman penduduk. Mengancam kehidupan. Terjadilah banjir.
Kita tersentak, tersadar sesaat, jika keseimbangan alam sangat penting. Satu tindakan yang salah, satu kebijakan ceroboh menimbulkan dampak buruk bagi semua.
Sangat penting bagi kita agar selalu bercermin. Sebuah cermin tidak akan berbohong dan tidak akan menipu, cermin akan jujur mengungkapkan fakta sebenarnya. Cermin kehidupan, cermin keseimbangan akan memantulkan satu komunitas harmoni.
Namun demikian, kita tidak hanya memerlukan satu cermin. Kita membutuhkan dua kaca sekaligus, yaitu kaca cermin dan kaca jendela. Kaca cermin menggambarkan sikap egosentris, melihat persoalan hanya dari sudut pandang diri sendiri. Sedangkan kaca jendela merupakan cara mengetahui dan melihat kepentingan orang lain, di samping diri sendiri. Kita harus mengangkat sebagian kaca cermin dan menggantinya dengan kaca jendela. Melalui kaca jendela, seseorang tidak lagi melihat dirinya sendiri, tetapi mereka juga melihat orang lain di sekitarnya dengan berbagai kebutuhannya. Mengubah kaca cermin dengan kaca jendela adalah langkah penting agar perhatian seseorang tidak hanya tertuju ke dalam, melainkan tertuju ke luar kepada orang lain.
Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu tipe orang yang berusaha mengerti kondisi rakyat yang dipimpinnya. Disebutkan ia kerap memasuki pelosok-pelosok kampung yang termasuk wilayah kekuasaannya. Ini dilakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Ia pun mengangkut sendiri karung berisi gandum untuk diberikan pada wanita tua yang mempunyai anak-anak yatim. Umar melihat wanita itu memasak batu untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar. Umar bahkan pernah berujar, "Saya khawatir dimintai tanggung jawab di akhirat, jika ada seekor keledai mati di Syam karena kekeringan." Itulah jangkauan empati dan kepedulian Umar bin Khattab.

Begitulah empati. Empati sering juga disebut dengan kepedulian. Yakni kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain, kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Peduli atau empati tak berhenti sampai di situ, tapi dilanjutkan dalam tahap menanggapi dan melakukan perbuatan yang diperlukan orang lain.
Mari kita belajar belajar menanamkan rasa empati dan peduli. Kemampuan meraba dan menghayati berbagai perasaan yang berkembang dalam diri seperti sedih, gembira, kecewa, bangga, terharu dan sebagainya. Mengenali perasaan sendiri merupakan bagian dari tuntutan kecerdasan emosi. Orang yang mengenali perasaan diri, biasanya mampu mengendalikan emosinya, sehingga ia tidak melakukan tindakan gegabah saat mendapati kenyataan di luar dirinya yang berbeda dengan keinginannya.

Kemudian sediakan waktu menyendiri untuk berpikir apa yang telah terjadi. Karena biasanya orang sulit mempunyai gambaran jernih terhadap suatu persoalan dalam kondisi emosi yang bermacam-macam. Pasangan suami istri umumnya merasa lebih empati satu sama lain ketika mereka sendirian dan memikirkan pasangan mereka. Rasa bersalah biasanya muncul saat mengemudikan mobil seorang diri ke tempat kerja, di masjid saat tafakkur, menjelang tidur, saat shalat. Dalam waktu-waktu tersebut, seseorang mempunyai waktu untuk memikirkan kembali berbagai masalah yang ia alami. Selanjutnya, memulai yang lebih baik dengan memperbaiki terlebih dulu dirinya, sebelum menuntut orang lain berlaku baik kepadanya.
Di sekitar kita, banyak peristiwa yang bisa menyulut gejolak emosi. Di rumah, seorang suami bisa saja menemui segala macam hal yang berantakan. Seorang istri mendapati suaminya tak banyak memberi nafkah. Di jalanan seorang sopir bisa menemui banyak peristiwa yang memanaskan. Dalam segala kondisi, berupaya mengendalikan emosi merupakan perjuangan berat, tapi itu perlu. Pada akhirnya perjalanan panjang dinamika kehidupan, ibarat aliran sungai akan bermuara pada batas akhir. O

Kamis, 04 Desember 2008

Impian yang indah

Mimpi dan Nyata

BARACK Obama menawarkan perspektif baru bagi masyarakat Amerika Serikat untuk melihat dunia dan berhubungan dengan masyarakat internasional. Bagi dia, banyak kebijakan luar negeri AS sudah ketinggalan zaman. Karena itu, perlu berbagai perubahan dan pendekatan baru. Mimpi untuk membuat perubahan dalam kampenye Pilpres AS menjadi kenyataan. Nyatanya Obama terpilih menjadi Presiden AS pada pilpres 4 November 2008, mengalahkan saingannya McCain dari Partai Republik.
Perjalanan Obama menuju Gedung Putih, tidak sekonyong-konyong muncul dan menjadi kandidat. Mimpi Obama telah ada sejak dulu. Perjalanan karir Obama menandakan Obama adalah pemimpin yang telah ia siapkan sendiri. Boleh jadi Obama telah memberikan inspirasi bagi dunia. Satu kata ‘perubahan’ adalah mimpi Obama dalam mengimplementasikan dirinya menjadi pemimpin.
seandainya warga internasional boleh ikut memberikan suara dalam Pemilu Amerika Serikat sekarang ini, mayoritas terbesar mereka akan memberikan suara kepada kandidat Partai Demokrat, Barack Obama. Dunia mungkin tidak lagi peduli dengan politik Amerika yang masih saja berbau WASP--White, Anglo Saxon, dan Protestan. Memang, hanya pernah ada satu presiden beragama Katolik, dia adalah JF Kennedy yang Anglo-Saxon. Obama jelas bukan Anglo Saxon. Meski ibunya kulit putih (the white), ia tidak lagi murni kulit putih; ia lebih kelihatan sebagai orang hitam (the black) walau sebagian orang hitam sendiri mempersoalkannya bahwa dia tidak cukup black. Jelas, ia adalah penganut Protestan.
Tapi, di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, Obama juga bakal menang mutlak seandainya warga Indonesia boleh ikut memilih. Ini bukan hanya karena visi dan misinya, tapi juga karena ia pernah tinggal dan sekolah di Jakarta selama lebih dari tiga tahun; ia meninggalkan semacam ikatan emosional di sini. Apalagi, seperti diceritakan Obama sendiri dalam Dreams from My Father.
Tiket masuk ke dalam sebuah impian tidak ada yang gratis. Ada riset yang harus dilakukan, harus belajar, berlatih, berlatih, dan berlatih. Yang paling murah dan biasanya paling cepat, jalan untuk mencapai semua keinginan itu adalah dengan membayar harganya secara penuh. Lakukan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
Mereka mampu mencapai dan merealisasikan kenyataan kesuksesan berawal dari mimpi. Banyak hal yang telah membuktikan kepada kita sekarang bahwa semua itu berawal dari sebuah mimpi. Oleh karena itu, genggam impian yang telah Anda tetapkan, jangan biarkan kata-kata negatif, cemohan, hinaan, sindiran, dan kawan-kawan nya menjadi penghalang dan rintangan dalam mencapai impian. Anggaplah seolah-olah itu telah terjadi hingga suatu saat nanti itu benar-benar menjadi kenyataan.
Mimpi yang kita ungkapkan kadang-kadang dianggap sebagian orang tidak rasional dan tidak mungkin diwujudkan. Padahal impian, tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Mimpi menjadi suatu cita-cita dan motivasi dan inspirasi untuk berbuat dalam kehidupan. Menggantungkan mimpi akan menjadikan diri kita membuat perubahan sikap dan kemampuan dalam memaknai perjalanan hidup. Mimpi yang tidak sesuai dengan kenyataan, bukanlah salah dalam merumuskan mimpi, tapi ada satu yang perlu kita koreksi dan instropeksi. Mimpi yang sempurna belum tentu akan menjadi kenyataan yang sempurna. Kesulitan merumuskan mimpi akan berbanding lurus tantangan dalam mewujudkannya. Namun demikian impian sudah seharusnya diwujudkan dengan pengorbanan.
Kita tidak melihat kesuksesan Obama mencapai tampuk kepemimpinan secara tiba-tiba. Tapi perjuangan Obama telah dilakukan sejak awal. Kita yakin tim Obama telah kerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Oleh karena itu, mulai sekarang kita pun jangan suka memendam mimpi. Ungkapkanlah mimpi-mimpi Anda, dan pelajarilah bagaimana cara untuk mewujudkannya. Selamat bermimpi dan berusahalah mewujudkannya. O

Jangan Biarkan Belenggu Penjara

Penjara

ADA yang pernah membayangkan rasanya terkurung dalam penjara pengap yang hanya cukup untuk dirimu sendiri? Sungguh sangat menyedihkan, rasa sesak itu akan terasa hingga ke dadamu, napasmu akan terasa tersengal seolah-olah tersumbat sesuatu.
Sama sekali tidak membayangkan, jika kehidupan ini harus dijalani dalam penjara. Tadinya saya mengagumkan beberapa tokoh perjuangan, mereka juga sering dipenjara. Keluar masuk penjara hal yang biasa bagi para pejuang. Tapi penjara masa reformasi ini beda dengan penjara masa pergerakan merebut kemerdekaan. Penjara dalam konteks perjuangan hanya satu slogan ‘merdeka atau mati’. Tapi kini kondisi sudah berubah. Kemerdekaan pun telah kita rebut, walaupun pintu penjara masih tetap dibuka. Ruang penjara disiapkan bukan untuk mengasingkan para pejuang kemerdekaan, melainkan untuk menjerat kaum koruptor yang makin merajalela menguras harta kekayaan negara.
Kerangkeng besi pun sekarang dipenuhi para pejabat negara, anggota DPR, mantan gubernur dan mantan bupati. Terlepas perbuatan sang koruptor disengaja atau tidak sengaja dilakukan. Kalau tidak demikian, apakah kondisi mereka karena larut dan ikut dalam sistem, sehingga mereka mengabaikan etika, nilai-nilai dan akibatnya tidak mampu menggebrak tembok atau pintu kebebasan.
Sebenarnya kehidupan pilihan. Kalau pun harus mengakhiri kehidupan di dalam penjara, itu merupakan konsekuensi logis sebuah pilihan. Karena ada juga yang merasakan dan mengganggap, masuk penjara, bukan berarti telah hilang suatu kebebasan. Karena kebebasan adalah hak semua orang dan telah dimiliki manusia sejak lahir. Oleh karena itu, walaupun sang pejuang, sang koruptor dalam penjara, pada dasarnya ia tetap memiliki kebebasan. Sang pejuang masih ada kebebasan untuk berjuang dalam mencapai tujuannya. Sedangkan sang koruptor, ada kebebasan untuk sadar dan bertobat bahwa perbuatannya telah merugikan banyak orang. Hanya saja perbedaannya, sang koruptor lebih sering tampil di layar TV atau pun koran dan selalu mengumbarkan senyum. Masih sempat mengenakan pakaian batik. Sebaliknya, para pejuang yang pernah merasakan dalam pengasingan di penjara. Walau pun tidak tampil di TV atau koran dan tidak terlihat lontaran senyuman, tapi mereka memiliki jiwa dan hati yang sama sekali tidak terpenjara. Hati yang mereka miliki suci dalam balutan keikhlasan untuk berjuang memperebutkan hak-hak kemerdekaan rakyat Indonesia, justru sebaliknya sang koruptor dalam penjara karena telah menginjak-nginjak hak rakyat. Uang rakyat yang semestinya digunakan untuk rakyat telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi.
Mereka yang terpenjara akibat perbuatan korupsi, pada dasarnya tidak hanya dipenjara secara fisik. Karena hidup yang dia rasakan sebelum ia dipenjara adalah ibarat telah menjadi sebuah penjara. Karena kebanyakan melihat hidup sebagai sesuatu yang menyenangkan, sebagai kesempatan untuk bersenang-senang. Mereka rela hidup demi kenikmatan hidup. Kemudian mereka menjadi tergila-gila dan terpikat pada kehidupan. Karena mereka tergila-gila dan terperdaya oleh kehidupan inilah yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi penjara.
Semakin orang mempertahankan dan mengejar kesenangan melalui identitas-identitas sekunder maka kekecewaan dan derita serta perasaan kalah sudah menghadang di depannya. Jika hati, pikiran, dan nafsu kita masih sangat kuat terikat dengan beban-beban topeng dan bagasi duniawi, pasti sulit untuk lari dan terbang menuju pembebasan.
Misi kerohanian adakalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat yang bersifat badani dan emosi sehingga bisikan, ajakan, peringatan, dan daya ruhani untuk melakukan bakti yang lebih mulia dan meraih kebahagiaan yang lebih tinggi menjadi terbengkalai. Hatinya mengeras, telinganya menjadi tuli, dan penglihatannya buta terhadap jalan kebenaran.
Pemimpin yang dianggap sukses bukannya yang kaya raya karena canggih melakukan korupsi, melainkan justru mereka yang siap hidup sederhana karena ingin memberikan seluruh potensi dan keunggulannya untuk saudara-saudara sesamanya.
Ketika orang sibuk mengumpulkan harta, bahkan dengan cara tidak halal, lalu hartanya hanya dipeluk dan dibanggakan, tetapi tidak ditaklukkan untuk sarana amal saleh, maka perasaan bahwa dirinya kaya adalah perasaan semu.
Keberhasilan menaklukkan itulah yang disebut orang kaya, bukannya mereka yang ditindas oleh harta untuk selalu menjaga dan bahkan membawanya dalam mimpi, seakan semua itu akan membuatnya abadi. O

Terasa Air Mata Bahagia

Menangis

SAYA juga heran mengapa tiba-tiba saat menyampaikan sambutan pelepasan keberangkatan orangtua menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, pada Kamis (27/11) saya menangis. Padahal sesungguhnya suasana hati saya begitu bahagia, karena niat orangtua untuk menunaikan ibadah haji kesampaian. Hal lain yang membuat bahagia karena niat saya dan istri untuk memberangkatkan orangtua ke Tanah Suci tercapai. Pertanyaannya, mengapa saya menangis? Padahal sebelumnya, jika melihat orang menangis ketika mengantar kerabatnya berangkat haji, dalam hati saya selalu mengatakan, masak sih itu saja sampai menangis.
Kini kondisi seperti ini terjadi dengan saya. Mengapa sampai menangis? Ketika ditanya demikian. Saya yang bisa merasakannya. Pertama terus terang niat dari awal untuk memberangkatkan orangtua melaksanakan ibadah haji sungguh perjuangan keihlasan hati. Betapa saya dan istri ditantang oleh suatu keadaan yang memang butuh jawaban. Mampukah ikhlas dari awal untuk memberangkatkan orangtua melakukan ibadah haji.
Jawaban demi jawaban dari hari ke hari kami keluarkan. Jalan untuk mengimplementasikan niat kami pun terasa jadi mudah. Hampir semua perubahan dan peristiwa yang kami alami, yang kami rasakan terasa memang suatu petunjuk bahwa inilah jalan yang diberi-Nya. Saya sangat yakin berangkat haji memang bukan segala-galanya, karena memang yang punya segala-galanya itu adalah Allah. Haji adalah sebuah proses ibadah yang diharapkan akan menjadi motivasi dan kekuatan dalam menambah keimanan dan ketakwaan. Perjuangan yang kami rasakan bukan tanpa tantangan. Tantangan dan kendala tetap ada dan kami temui, tapi atas kekuatan pertolongan-Nya selalu ada jawaban.
Bagi saya tangisan itu tiba-tiba muncul, adalah suatu getaran suatu puncak perjuangan yang selama ini kami rasakan. Memantapkan hati dalam keikhlasan, bukan suatu yang mudah dilaksanakan. Selama manasik haji, saya yang mengantar dan menjemput. Kadang juga saya ikut menunggu kegiatan manasik. Selama perjalanan, banyak cerita soal ibadah haji yang dibicarakan. Sesungguhnya tangisan itu adalah tangis kebahagiaan buah dari perjuangan panjang, bertahun-tahun. Hanya kekuatan yang luar biasa, yang mampu memberikan petunjuk pada kami. Semoga selamanya akan mendapat petunjuk di jalan yang benar.
Kini saya semakin mengerti mengapa tiba-tiba menangis. Sebenarnya sejak dari keluar dari perut ibu, kita telah mengenal tangisan. Betapa tangis itu tidak bisa dipisahkan dengan dinamika dalam hidup.
Tangisan itu tiba-tiba datang pada saat kesedihan melanda seseorang. Tapi dia bisa juga datang pada satu kegembiraan . Airmata adalah tanda dimana ungkapan rasa disebut tangis. Tapi tangisan tak selalu dibarengi airmata , sebuah hati pun bisa menangis.
Tangisan adalah tanda kekuatan untuk mengakui kelemahan kita. Kekuatan untuk proses mengerti atau menerima kenyataan.
Tangis bahagia terjadi jika kita menerima berkat atau kebahagiaan yang lebih daripada yang bisa kita bayangkan. Tangis yang terjadi yang saya rasakan ini, ketika hati dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
Dan akhirnya sebuah tangisan ternyata memiliki makna yang lebih kompleks dari sebuah kelemahan dan sekadar identitas gender. O firdaus komar

KEBERADAAN KITA

Mengapa Kita Ada?


MARI kita renungkan puisi Andreas Harefa dalam buku “ Menjadi Manusia Pembelajar ” berikut ini :
Aku adalah pembelajar di Universitas Besar kehidupan”
Dimana aku belajar untuk menerima tanggung jawab.
Dengan pertama-tama berusaha menjadi diri sendiri, bukan yang lain
Untuk menolak ditentukan, didikte, dipaksa oleh yang bukan diriku siapapun atau apapun itu
… Dan kepada siapa aku percaya kalau bukan kepada-MU?
***
ORANG sering menanyakan soal keberadaan kita. Suatu pertanyaan mengenai posisi kita. Mengapa kita ada? Jawabnya sangat panjang, karena pada akhirnya pertanyaan itu akan bermuara pada jawaban mengenai hakikat keberadaan dan tujuan kita di muka bumi ini.
Seandainya kita tak tidak ada. Kita pun tak akan menemui persoalan-persoalan kehidupan ini. Kita tidak akan menghadapi krisis global yang melanda dunia saat ini, kita tidak akan menghadapi keterpurukan Indonesia, kita tidak akan menghadapi kemiskinan dan kemelaratan, kita tidak akan mengenal maraknya korupsi, kita tidak akan tahu jika ada masalah dalam penyaluran pupuk bersubsidi, penyaluran raskin, penyaluran subsidi-subsidi lainnya. Kita tidak akan menghadapi mahalnya biaya pendidikan anak, biaya berobat yang mahal, dan kita tidak akan melihat kebajatan dan keberingasan kaum penjahat, kita tidak akan melihat adanya suap, kita tidak akan melihat pejabat yang munafik, tidak jujur, pejabat yang tidak amanah.
Kenyataannya kini kebaradaan kita ada. Benarkah keberadaan kita telah mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia, manusia yang dapat memberikan bermanfaat bagi orang lain.
Atau sebaliknya keberadaan kita justru ikut arus dalam persoalan tersebut. Dan tenggelam dalam arus persoalan itu. Alangkah tidak bermanfaatnya kita, seandainya kita distributor pupuk, kita pun ikut menyelewengkan pupuk subsidi. Seandainya kita penyalur beras miskin, kita pun menjual beras itu untuk kepentingan kita. Seandainya kita pejabat, justru kita ikut melakukan korupsi, kita pun manafik, kita pun tidak jujur, kita pun jadi pejabat yang tidak amanah.
Mungkin keberadaan sebenarnya ada dalam ketiadaan, kita telah menjadi sosok mayat hidup yang tidak mampu lagi berperan sempurna. Peran yang kita tunjukkan hanya untuk merusak tatanan, hanya untuk memenuhi ambisi pribadi, dan hanya untuk kepentingan sesaat. Sungguh keberadaan manusia itu ibarat jadi manusia bodoh. Tidak mampu lagi membedakan yang hak dan batil, tidak bisa membedakan lagi posisi jalan yang lurus dan jalan tidak benar. Atau kita berada dalam posisi di persimpangan jalan, yang tidak tahu arah tujuan jalan. Mungkinkah jalan tujuan yang sudah ditetap sudah hilang atau kita masih dalam keadaan tersesat. Seorang teman pernah membuat pernyataan yang isinya “kalau mau berbuat baik, jalan yang lurus jadi kiai sajalah”. Pernyataan itu mungkin guyon, tapi pernyataan itu cukup serius. Karena apa pun namanya perbuatan baik dan posisi di jalan yang benar bukan persoalan kiai. Tapi adalah sudah menjadi tugas dan tanggung jawab semua manusia. Secara nurani manusia tentu saja mencita-citakan kebaikan, tidak mau ada kejahatan.
Patut kita syukuri kita memang ada. Pernahkah kita berpikir? Setiap manusia pasti dapat berpikir, tetapi berpikir yang bagimana yang bisa dilakukan. Manusia adalah mahluk yang sempurna, dilengkapi akal dan pikiran, namun sayang kebanyakan dari mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan kenyataannya manusia hampir tidak pernah berpikir walaupun manusia memiliki tingkat kemampuan untuk berpikir mendalam yang seringkali tidak menyadarinya. Banyak fakta-fakta di sekeliling kita masih belum diketahui, hal tersebut membutuhkan proses berpikir yang mendalam.
Seseorang yang tidak berpikir dengan akal sehat dan nuraninya berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani kehidupan penuh dengan kepalsuan. Akibatnya tidak mengetahui tujuan penciptaan alam dan tujuan keberadaan diri kita sendiri dimuka bumi ini, yang akhirnya hidup dipenuhi keserakahan, kemunafikan, kejahiliyahan, dan hidup dipenuhi fatamorgana yang menipu.
Setiap orang tidak saja dapat memikirkan (akal) apa dan siapa dirinya, tetapi juga dapat merasakan (hati) apa dan siapa dirinya itu dan bahkan mengekpresikan (kemauan) apa yang dipikirkan dan dirasakannya dalam kehidupan. Untuk mensinkronisasikan atau mensinergikan kekuatan pikiran (akal) dan perasaan (hati) kita perlu menjadi manusia yang jujur, memiliki integritas, akuntable sehingga benar-benar otentik dan original.
firdaus komar

HARAPAN BARU TERHADAP PWI SUMSEL

Reposisi & Aktualisasi Peran PWI

Firdaus Komar

PERJALANAN panjang sejarah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak terlepas dari kehidupan pers di Tanah Air yang searah dalam melingkupi perjuangan bangsa Indonesia. Tak dapat dipungkiri kenyataan sejarah, PWI lahir 9 Februari 1946 di Solo adalah tuntutan peran perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Tentu saja pahit getir, dan manis romantisme sejarah PWI dalam kehidupan pers dari rentang panjang perjalanan bangsa Indonesia tidak terlepas dari perubahan sosial politik di Tanah Air.
Kalau pun saat ini pers Indonesia menikmati suatu ranah pers yang bebas ditambah lagi dengan gampangnya orang mendirikan perusahaan pers. Itu pun tak terlepas dari kondisi sosial politik di Indonesia ketika memasuki era reformasi.
***
Tulisan Arpan Rachman, dalam rubrik opini di BeritaPagi ‘Budaya (Restu-Merestui) Konferensi PWI Sumsel’ saya melihat lebih mengedepankan bagaimana posisi PWI sebagai organisasi independen tidak terpengaruh dengan tarikan kepentingan politik tertentu.
Beberapa hal yang perlu dicermati berkaitan dengan reposisi dan aktualisasi peran PWI dalam konteks kekinian tentu saja bukan hanya persoalan siapa yang akan dipilih menjadi ketua dalam arena Konfercab PWI Sumsel. Satu hal yang tidak kalah penting dan strategis adalah persoalan visi, misi dan langkah-langkah PWI ke depan.
Pada dasarnya tidak ada yang salah dalam organisasi ke-PWI-an. Karena PWI bukanlah organisasi pinggiran yang tiba-tiba muncul hanya untuk kepentingan sesaat seseorang. Kita sadari PWI lahir dalam napas perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sampai kapan pun PWI adalah organisasi wartawan yang memiliki tujuan agar tercapainya cita-cita rakyat Indonesia sesuai yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.
Tentu saja visi PWI agar terwujudnya kehidupan pers yang merdeka, profesional, dan bermartabat. Serta terpenuhinya hak masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh informasi yang obyektif dan terwujudnya tugas pengawasan, kritik, koreksi terhadap hal-hal kepentingan publik.
Guna mencapai visi dan misi PWI yang sangat mulia itu, maka dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang andal memiliki kemampuan manajerial, pengalaman organisatoris, berjiwa leadership, memiliki integritas, moralitas, profesional. Tidak kalah penting sosok pemimpin PWI sudah teruji dalam kepengurusan PWI yang memiliki komitmen untuk kemajuan PWI.
Oleh karena itu dengan memiliki SDM yang andal, maka posisi dan aktualisasi peran PWI dalam konteks kekinian tetap dibutuhkan. Dilihat secara eksternal, maka sepanjang denyut nadi dan napas bangsa kita masih ada, maka PWI tetap penting menjadi organisasi dalam berperan dan kehidupan bernegara. Jika era perjuangan PWI dibutuhkan untuk turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan, maka tentu saja posisi dan aktualisasi peran PWI kekinian lebih kompleks. PWI diharapkan mampu untuk mengawal proses demokratisasi yang sedang kita jalani saat ini. Pers sebagai bagian dari salah satu pilar demokrasi, sangat menentukan dalam perjalanan demokratisasi dalam berbagai sendiri kehidupan. PWI tetap mendorong pers sebagai industri agar tidak semata-mata mengedepankan kepentingan bisnis. Satu tanggung jawab besar pers yang sejak dulu diperankan adalah menyelamatkan bangsa Indonesia dari berbagai ancaman dan tantangan.
Sedangkan secara internal, PWI sebagai organisasi besar yang memiliki struktur sampai ke daerah kabupaten dan kota memiliki tanggung jawab terhadap eksistensi keorganisasian ke-PWI-an dan tanggung jawab terhadap keanggotaan PWI.
Eksistensi PWI secara organisatoris, tentu saja harus didukung SDM yang andal dalam struktur kepengurusannya. Olah karena itu, seleksi bagi keanggotaan PWI harus benar-benar memperhatikan kapasitas seseorang sebagai wartawan. Jangan sampai kecolongan, misalnya seseorang mengaku sebagai wartawan. Padahal dia sama sekali tidak ada karya jurnalistik yang dibuktikan dengan kegiatan kejurnalistikannya. Sudah seharusnya PWI memiliki filter untuk tidak menerima anggota yang tidak memenuhi kriteria. Karena saat ini dengan gampang orang mendirikan perusahaan surat kabar sebagai hak warga negara untuk menerbitkan sebuah media. Bayangkan, asal saja penerbitan tersebut berbadan hukum maka orang tersebut sudah bisa membikin usaha penerbitan dan dapat menerima atau merekrut wartawan.
Karena kran usaha media ini dibuka sedemikian besar, hal ini sesuai dengan UU No 40 tahun 1990 tentang Pers. Akibatnya bukan tidak mungkin orang bekeinginan masuk PWI dengan mudah. Sekarang filter pengawasan dan seleksi bagi calon anggota PWI tetap ada dalam kepengurusan PWI tingkat cabang.
Di tengah tuntutan pengembangan keorganisasian ke-PWI-an, maka dibutuhkan kesekretariatan atau kantor PWI Sumsel yang refresentatif. Seiring dengan pengembangan media yang tidak hanya meliputi media cetak, elektronik, ada lagi media digital melalui web-site internet, maka seharusnya dibutuhkan modernisasi organisasi PWI. PWI ke depan saatnya memanfaatan teknologi informasi komunikasi yang notabene merupakan keterpaduan yang sejalan dalam perkembangan dan kemajuan pers.
Tanggung jawab PWI terhadap keanggotaan PWI terutama tanggung jawab untuk mewujudkan wartawan yang profesional, tangguh, dan berwawasan luas, berintegitas dan bermoral. Untuk mewujudkan wartawan yang profesional, maka PWI Sumsel perlu menyelenggarakan pendidikan secara reguler. Membentuk grup fokus diskusi membahas isu-isu sentral. Melalui forum grup diskusi ini dapat mengundang seluruh pemred guna membahas berbagai isu di luar pemberitaan media.
Untuk mewujudkan kesejahtaraan bagi anggota PWI, maka sudah saatnya agar PWI mengaktifkan dan memaksimalkan koperasi anggota PWI. PWI dapat juga kerja sama dengan memberdayakan ikatan keluarga wartawan Indonesia (IKWI) untuk mengelola koperasi wartawan. PWI perlu menjalin kerja sama dengan pihak luar untuk pengadaan kredit rumah subsidi bagi anggota PWI atau wartawan yang memang membutuhkan.
Di luar pendidikan dan peningkatan kesejahteraan, maka PWI perlu menyiapkan dengan memaksimalkan lembaga bantuan hukum untuk advokasi anggota PWI yang berurusan dengan persoalan hukum. Lembaga bantuan hukum PWI dengan menjalin kerja sama dengan para pengacara melalui lembaga ikatan pengacara dapat membentuk tim advokasi bantuan hukum kepada wartawan. O
Calon Ketua PWI Sumsel, Redpel BeritaPagi

Selasa, 25 November 2008

IDENTITAS KU

Curiculum Vitae


Nama : Firdaus Komar

Tempat/Tgl Lahir : Muaralakitan (Musi Rawas), 8 Januari 1971

Pendidikan Terakhir : S1 FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri)

Alamat : Jl Kebun Bunga, Perumahan Citra Kencana I Blok A No 24 RT 48 RW 07 Kecamatan Sukarami KM 9 Palembang

Nama Istri : Dra Anisatul Mardiah MAg
Pekerjaan : Dosen IAIN Raden Fatah Palembang
(kandidat Doktor di Universitas Malaya, Malaysia).
Anak :
1. Berliana Faradisa, Kelas V SD Islam Terpadu Yayasan Izzuddin
2. Asshafa Adzkiyah, Kelas III SD Islam Terpadu Yayasan Izzuddin
3. Rayyani Qatrunada, Kelas I SD Islam Terpadu Yayaysan Izzuddin
4. Khairunadra LN, TK Islam Terpadu Yayasan Frania
5. Syaffana Mumtaza Najidah (3 tahun)

Pekerjaan :
1995-2005 : Wartawan Harian Umum Sriwijaya Post Palembang
2005-Sekarang : Wartawan BeritaPagi Palembang

Pengalaman Kerja/ Jabatan :

1995-1996 : Ditempatkan di Kota Prabumulih dan Kabupaten Muaraenim
1996-1997 : Ditempatkan di Biro Jakarta (Persda)
1997-1998 : Wakil Redaktur Kota HU Sriwijaya Post
1998-1999 : Wakil Redaktur Ekonomi Bisnis HU Sriwijaya Post
1999-2002: Redaktur Olahraga HU Sriwijaya Post
2002-2005 : Redaktur Ekonomi Bisnis HU Sriwijaya Post
2004 : Supervisor Tim Kelompk Kompas Gramedia (KKG) persiapan penerbiatan HU Tribun Batam di Batam.
2005 : Anggota tim persiapan penerbitan HU BeritaPagi di Palembang
2005-2006 : Wakil Redaktur Pelaksana HU BeritaPagi
2006-Sekarang : Redaktur Pelaksana (Redpel) HU BeritaPagi

Pengalaman Organisasi :
1. 1992-1993 Ketua Umum Senat Mahasiswa FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri)
2. 1993-1994 Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Palembang
3. 1993-1994 Ketua Umum Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) Universitas Sriwijaya (Unsri)
4. 1995-1996 Kabid PTKP Badko HMI Sumbagsel
5. 1996-1997 PJ Ketua Umum Badko HMI Sumbagsel
6. 1999-2005 Ketua SIWO Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumsel
7. 2002-2004 Wakil Ketua Bidang Humas KONI Sumsel
8. 2005-2008 Wakil Sekretaris PWI Cabang Sumsel
9. 2006-Sekarang Humas Korp Alumni HMI Sumsel (KAHMI)

Jumat, 26 September 2008

Akhirnya Pulang

Tak ada satu orang pun yang bisa menolak datangnya kematian. Dia begitu dekat dengan manusia. Tiba-tiba dia datang mengajak insan manusia pulang ke khadirat-Nya. begitu juga dengan Wak Sok, demikian saya memanggil ayunda dari emak saya. Namanya Mariam. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.50 di RS RK Charitas. Wak Sok meninggal saat usianya berumur 78 tahun. Semoga Wak Sok berbahagia di akhirat dan mendapat tempat yang baik di sisi Allah SWT. Amin.

Senin, 22 September 2008

EMPATI

Cara menumbuhkan empati

Kita membutuhkan dua kaca sekaligus, yaitu kaca cermin dan kaca jendela. "Kaca Cermin" menggambarkan sikap egosentris, melihat persoalan hanya dari sudut pandang diri sendiri. Sedangkan "Kaca Jendela" merupakan cara mengetahui dan melihat kepentingan orang lain, di samping diri sendiri. Kita harus mengangkat sebagian kaca cermin dan menggantinya dengan kaca jendela. Melalui kaca jendela, seseorang tidak lagi melihat dirinya sendiri, tetapi mereka juga melihat orang lain di sekitarnya dengan berbagai kebutuhannya. Mengubah kaca cermin dengan kaca jendela adalah langkah penting agar perhatian seseorang tidak hanya tertuju ke dalam (self centered), melainkan tertuju ke luar kepada orang lain sehingga ia mudah merasa iba kepada orang lain (extra centered sensitivity).


Khalifah Umar bin Khattab merupakan salah satu tipe orang yang berusaha mengerti kondisi rakyat yang dipimpinnya. Disebutkan ia kerap memasuki pelosok-pelosok kampung yang termasuk wilayah kekuasaannya. Ini dilakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Ia pun mengangkut sendiri karung berisi gandum untuk diberikan pada wanita tua yang mempunyai anak-anak yatim. Umar melihat wanita itu memasak batu untuk menenangkan anaknya yang menangis karena lapar. Umar bahkan pernah berujar, "Saya khawatir dimintai tanggung jawab di akhirat, jika ada seekor keledai mati di Syam karena kekeringan." Itulah jangkauan empati dan kepedulian Umar bin Khattab ra.

Begitulah empati. Empati sering juga disebut dengan kepedulian. Yakni kesanggupan untuk peka terhadap kebutuhan orang lain, kesanggupan untuk turut merasakan perasaan orang lain serta menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Peduli atau empati tak berhenti sampai di situ, tapi dilanjutkan dalam tahap menanggapi dan melakukan perbuatan yang diperlukan orang lain. Persis sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Jalinan kasih sayang antara kaum muslimin ibarat satu tubuh. Bila ada satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh lainnya akan merasakan hal yang sama." (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk dapat bersikap peka dan peduli dibutuhkan tingkat kematangan kepribadian tertentu. Para pakar ilmu komunikasi dan pendidikan menilai bahwa kepedulian atau empati merupakan kata kunci dalam tahap akhir kecerdasan emosional. Sebabnya antara lain, karena untuk berempati kita harus mampu mengobservasi dan melibatkan banyak panca indera.

Ada dua modal dasar yang harus dimiliki oleh seseorang agar memiliki empati. Psikolog Michael Nichols dari Albany Medical College menyebutkan, dua modal itu adalah "mengerti dan menerima". Pengertian dan penerimaan sangat penting bila seseorang ingin menunjukkan kepeduliannya. Mengerti apa yang dirasakan orang lain, dapat melihat masalah dari sudut pandang mereka dan menerima keadaan itu.
Ada beberapa langkah praktis agar kita bisa belajar menanamkan rasa empati dan peduli:

Pertama, kenali perasaan sendiri.

Prosesnya adalah dengan meraba dan menghayati berbagai perasaan yang berkembang dalam diri seperti sedih, gembira, kecewa, bangga, terharu dan sebagainya. Mengenali perasaan sendiri merupakan bagian dari tuntutan kecerdasan emosi. Orang yang mengenali perasaan diri, biasanya mampu mengendalikan emosinya, sehingga ia tidak melakukan tindakan gegabah saat mendapati kenyataan di luar dirinya yang berbeda dengan keinginannya.

Kedua, sediakan waktu menyendiri untuk berpikir apa yang telah terjadi.

Ini sebenarnya termasuk proses pengenalan dan pengendalian emosi. Karena biasanya orang sulit mempunyai gambaran jernih terhadap suatu persoalan dalam kondisi emosi yang bermacam-macam. Pasangan suami isteri umumnya merasa lebih empati satu sama lain ketika mereka sendirian dan memikirkan pasangan mereka. Rasa bersalah biasanya muncul saat mengemudikan mobil seorang diri ke tempat kerja, di masjid saat tafakkur, menjelang tidur, saat shalat malam dan sebagainya. Dalam waktu-waktu tersebut, seseorang mempunyai waktu untuk memikirkan kembali berbagai masalah yang ia alami. Selanjutnya, memulai yang lebih baik dengan memperbaiki terlebih dulu dirinya, sebelum menuntut orang lain berlaku baik kepadanya.

Ketiga, cobalah memandang masalah dari sudut pandang orang lain.

Empati adalah ketika kita dapat merasakan, apa yang orang lain rasakan dan juga dapat melihat masalah dari sudut pandang mereka. Masukilah dunia mereka dan cobalah memandang masalah dari sisi tersebut. Dengan demikian, pihak lain tidak saja hanya merasa dimengerti tapi ia merasa lebih disukai. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan hendaknya seseorang memberi 70 alasan udzur atas kesalahan yang dilakukan oleh saudaranya. Artinya, seseorang diminta untuk berusaha sebanyak mungkin memandang sesuatu yang tak mengenakkan itu dari sudut pandang pelakunya. "Bila engkau tetap tidak menerima 70 alasan tersebut, katakanlah pada dirimu: "Kasar sekali engkau, 70 alasan telah diajukan oleh saudaramu, tapi engkau tetap tidak menerimanya. Engkaulah yang bersalah, bukan saudaramu…" (Raudhatul Muhibbin, 11470). Dengan memahami sikap ini, memaksakan kehendak bisa dihindari. Banyak kekacauan muncul, karena adanya pemaksaan kehendak dan kurangnya upaya memahami.

Keempat, jadilah pendengar yang baik.

Kita lebih mudah merasa empati, memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri dalam keadaan orang lain, kalau kita dapat mendengar apa yang dialami orang tersebut. Tidak hanya kemampuan mendengarkan secara seksama, tapi juga membaca isyarat-isyarat non verbal. Sebab, seringkali bahasa tubuh dan tekanan suara lebih efektif menggambarkan perasaan ketimbang kata-kata. Orang tua misalnya, harus mampu meningkatkan kemampuan "mendengarkan" suara hati anak-anaknya. Anak-anak pun harus belajar "mendengarkan" lingkungannya, agar ia bisa terampil dalam kehidupan sosial. Anjuran mendengarkan berarti mengajak kita membuka pintu komunikasi dengan berbagai obyek. Informasi yang diterima dari banyaknya komunikasi itulah yang akan menjadikan kita bisa memahami dan mengerti.

Kelima, biasakan menghayati fenomena berbagai hal yang kita jumpai.

Misalnya, saat kita melihat seorang tunanetra di tengah keramaian, nyatakan dalam hati betapa sulitnya orang itu memenuhi kebutuhannya. Langkah ini biasanya berlanjut dengan kesanggupan menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Ketika mendapati anak-anak yang mengamen di jalanan hingga larut malam, misalnya. Katakanlah pada diri sendiri, bagaimana jika mereka itu adalah anak-anak kita. Jika menyaksikan himpitan rumah gubuk di pinggiran rel kereta, bayangkanlah bila keadaan itu dialami oleh keluarga kita. Dan seterusnya. Setiap muslim harus memiliki sikap seperti ini. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang tidak peduli dengan nasib urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan kaum muslimin, " (HR Thabrani).

Keenam, berlatih mengatur dan mengatasi gejolak emosi dalam menghadapi reaksi positif maupun negatif.

Di sekitar kita, banyak peristiwa yang bisa menyulut gejolak emosi. Di rumah, seorang suami bisa saja menemui segala macam hal yang berantakan. Seorang istri mendapati suaminya tak banyak memberi nafkah. Di jalanan seorang sopir bisa menemui banyak peristiwa yang memanaskan. Dalam segala kondisi, berupaya mengendalikan emosi merupakan perjuangan berat, tapi itu perlu.

Rasulullah adalah pribadi yang sangat lembut dan empati terhadap isterinya. Saat Aisyah ra jatuh sakit akibat beredarnya kabar bohong (haditsul ifki) yang menuduhnya berselingkuh, Rasulullah saw menyempatkan diri menjenguk Aisyah di rumah orang tuanya, Abu Bakar ra. Di sana Rasul menenangkan Aisyah. Sementara itu, Utsman ra lebih dulu merawat isterinya Ruqayyah yang jatuh sakit, meski saat itu ia sangat menggebu untuk terlibat di medan jihad.

Ketujuh, latihan berkorban untuk kepentingan orang lain.

Sebuah studi di Harvard University, Amerika Serikat, menunjukkan adanya keterkaitan yang jelas antara besarnya tanggung jawab seorang anak, dengan kecenderungan bersedia mementingkan orang lain. Empati sangat berhubungan dengan kesediaan berbuat baik (altruisme). Empati yang tinggi memperbesar kesediaan untuk menolong, untuk berbagi dan berkorban demi kesejahteraan orang lain. Kesanggupan untuk berempati sendiri adalah kesanggupan yang ada pada tiap orang. Islam juga menganjurkan orang yang memasak sayuran memperbanyak kuahnya untuk diberikan pada tetangga. Biasakan mensyukuri nikmat Allah, apapun bentuknya, dengan memberi sebagian dari apa yang kita miliki untuk orang lain, terutama yang membutuhkan.

BIDUK KEBERSAMAAN

Biduk kebersamaan

"Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamulah yang sempit, bukan dunianya.”

(Ar-Rafi’i)





Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti. Kita tak pernah berhenti karena menderita oleh keadaan seperti itu. Di jalan ini, "rasa sakit telah menjadi kenikmatan, pengorbanan menjadi indah dan jiwa menjadi tidak berharga." Kata itu yang pernah diucapkan seorang pejuang Palestina terkenal yang telah gugur, Mahmud Abu Hanud. Inilah perjalanan yang kita pilih untuk kita lalui bersama menuju keridhaan-Nya. Tujuan yang kita tetapkan dalam kebersamaan terbukti telah menjadikan kita lebih kuat, tabah, kokoh, menghadapi rintangan apapun juga.


Saudaraku,
Dalam perjalanan panjang seperti ini, kita memerlukan satu bekal, yaitu sikap lapang dada, nafas panjang dan mudah memaafkan. Seperti orang-orang shalih dahulu, yang tak peduli dengan suasana getir yang mereka terima dalam menjalankan ketaatan. Seperti para pejuang yang tak pernah tersengal-sengal oleh kejaran musuh-musuhnya di jalan Allah. Seperti Rasulullah saw yang tak merasa tertekan dengan penghinaan atau cacian orang-orang sekitarnya, dalam menjalani misi kenabiannya.

Saudaraku,
Sungguh luar biasa sikap orang-orang shalih dalam memandang dan mengukur penghinaan orang lain terhadap dirinya. Ibrahim An Nakh’i, suatu hari berjalan bersama sahabatnya, seorang buta. Setelah beberapa lama menyusuri jalan, orang buta itu mengatakan, "Ya Ibrahim, orangorang yang melihat kita mengatakan, "Itu orang buta dan orang pincang…itu orang buta dan orang pincang." Ibrahim dengan tenang lalu mengatakan, "Kenapa engkau begitu terbebani memikirkannya? Jika mereka berdosa karena menghina kita sedangkan kita mendapat pahala, lalu kenapa?"

Fudhail bin Iyadh, tokoh ulama yang terkenal ketakwaannya di zaman generasi tabi’in bercerita bahwa suatu ketika, saat berada di Masjidil Haram, ia didatangi seseorang yang menangis. Fudhail bertanya, "Kenapa engkau menangis?" Orang itu menjawab, "Aku kehilangan beberapa dinar dan aku tahu ternyata uangku dicuri." Fudhail mengatakan, "Apakah engkau menangis hanya karena dinar?" Sungguh mengejutkan jawaban orang itu. Ia menjawab, "Tidak, aku menangis karena aku tahu bahwa kelak aku akan berada di hadapan Allah, dengan pencuri itu. Aku kasihan dengan pencuri itu, itulah yang menyebabkan aku menangis…"

Saudaraku,
Banyak sekali kisah-kisah kelapangan dada dan kemudahan memaafkan yang dicatat dari perjalanan hidup para salafushalih. Misalnya saja, ketika Rabi’ bin Khaitsam kudanya dicuri, tapi Fudhail malah memberi uang dua puluh ribu dinar kepada Rabi’. Ia lalu mengatakan, "Berdo’alah kepada Allah untuk yang mencuri itu." Rabi’ kemudian berdo’a, "Ya Allah jika ia orang kaya maka ampunilah dosanya, dan jika ia orang miskin maka jadikanlah ia orang kaya."

Mereka yang dirahmati Allah itu, menyikapi berbagai persoalan dengan lapang dada. Mungkin saja mereka berduka, bersedih, kecewa, atau barangkali tersulut sedikit kemarahannya. Tetapi mereka berhasil menguasai hatinya kembali. Hati mereka tetap ridha, mata mereka tetap teduh, ketenangan mereka sama sekali tidak terusik. Betapa indahnya.

Kisah-kisah itu harusnya membuat kita mengerti bahwa, jika kita tidak lapang dada dan tidak mudah bersabar, kita pasti akan menjadi orang yang paling menderita di dunia ini. Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.

Jika itu yang terjadi, takkan ada amal-amal besar yang bisa dilakukan. Lantaran amal-amal besar itu, hanya lahir dari jiwa yang tenang, hati yang lapang, penuh ridha, pikiran yang jernih.

Itu sebabnya, pendakwah Syaikh Mushtafa Masyhur mensyaratkan sifat ’nafasun thawiil” atau nafas panjang, yang harus ada dalam diri para pejuang Islam. Baginya, jalan perjuangan yang terjal dan panjang tak mungkin bisa dilewati oleh orang-orang yang ber ‘nafas pendek’ alias mudah goyah, dan tidak sabar.

Saudaraku,
Apa rahasia lapang dada yang dimiliki para salafushalih itu? Kenapa mereka tetap memiliki bashirah yang terang dalam menghadapi persoalan hidup? Salah satunya adalah karena wawasan ilmu mereka yang luas. Orang yang sempit wawasan adalah orang yang takut dengan perkara-perkara kecil, sangat takut dengan pristiwa yang remeh dan mudah marah dengan kata-kata yang tidak berkenan di hatinya. Seseorang bahkan bisa sampai terbakar puncak kemarahannya disebabkan peristiwa yang sebenarnya bisa dilewati dengan memejamkan mata. Bahkan bisa dilewati dengan senyum bila dibarengi dengan sedikit berpikir lapang dada.

Itulah yang dikatakan oleh Ar Rafi’i dalam Wahyul Qalam, "Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwa mulah yang sempit, bukan dunianya." (Wahyul Qalam, 1/50)

Saudaraku dalam perjalanan,
Kita bisa seperti mereka. Jika kita tahu dan sadar, ada sasaran besar dan tujuan maha agung yang akan kita capai bersama di ujung jalan ini. Ada yang maha penting dari peristiwa-peristiwa apapun di jalan ini. Ada yang maha mulia dari berbagai kejadian-kejadian apapun di jalan ini.

Saudaraku,
Tak ada artinya aral apapun di jalan ini. Karena, kita sedang berjuang menuju Allah.

AJARI BERLAKU ADIL

Ajari diri berlaku adil

Tak satu pun sifat yang paling diminati seorang calon pemimpin melebihi adil. Bagaikan bentangan layar, adil menggerakkan seluruh potensi kapal kepemimpinan seseorang menuju arah yang diinginkan. Tanpanya, kapal kepemimpinan hanya terombang-ambing di samudera masalah yang begitu luas.

Semua kita adalah pemimpin. Dan, semua pemimpin punya tanggung jawab kepemimpinan. Rasulullah saw. bersabda, "Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (pegawai) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya." (HR. Bukhari dan Muslim).


Seperti itulah Islam memberikan tantangan pada kita untuk senantiasa memaknai kehidupan menjadi tingkat yang lebih tinggi. Bahwa, kehidupan bukan untuk menyendiri dan berusaha tak peduli dengan sekitar. Kehidupan adalah tanggung jawab.

Salah satu tanggung jawab yang selalu melekat dalam jiwa seorang mukmin adalah adil. Di situlah seorang mukmin bukan sekadar berhadapan dengan amanah dan tanggung jawab, tapi juga memaknai tanggung jawab pada nilai tertinggi.

Selama jiwa kepemimpinan seseorang masih hidup, sifat adil akan selalu menjadi takaran. Sebagai apa pun. Walau sebagai pemimpin terhadap diri sendiri. Mampukah kita adil menata hak-hak yang ada pada diri kita. Dan ketidakadilan sangat berbanding lurus dengan ketidakseimbangan diri.

Orang yang mudah sakit misalnya, berarti ia sedang mengalami ketidakseimbangan. Ini berarti ada ketidakadilan pada diri. Boleh jadi, ada hak-hak anggota tubuh yang terabaikan. Ketidakadilan menjadikan tubuh menjadi tidak seimbang. Dan ketidak seimbangan membuat diri menjadi rusak dan sakit. Pendek kata, sakit adalah ungkapan tubuh untuk menuntut pemenuhan hak salah satu anggota tubuh dengan cara paksa.

Mencermati keadilan pada diri akan menggiring kita untuk senantiasa mengukur dan menakar: mampukah kita masuk pada tanggung jawab yang lebih. Atau, belum. Kemampuan mengukur dan menakar ini pun buah dari sifat adil diri kita. Jika kita lengah dalam masalah ini, kelak kita bukan hanya menzhalimi diri sendiri, tapi juga orang lain.

Seperti itulah mungkin, Allah swt. menggiring kita untuk senantiasa mencermati keseimbangan. Lihatlah alam raya yang begitu seimbang. Tertata rapi, indah, dan sempurna. Dan itulah bukti keadilan Allah tegak di alam ini. Kalau alam yang pada awalnya seimbang, kenapa manusia dan masalahnya yang juga bagian dari alam tidak mampu adil dan seimbang. Apa yang salah?

Allah swt. berfirman dalam surah ArRahman ayat 5 hingga 13. "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Tuntutan berlaku adil akan lebih kencang ketika kepemimpinan masuk pada wilayah publik. Variabel-variabel yang dihadapi kian meluas. Ia bukan hanya harus mampu menata sifat adil dalam pertambahan jumlah objek, tapi juga pada mutu.

Boleh jadi, seseorang mampu adil terhadap objek yang banyak, tapi tidak mampu menjaga mutu adil ketika banyak rongrongan dan tuntutan datang bertubi-tubi. Dan itu sebagai sebuah kemestian pada wilayah publik yang heterogen dan majemuk.

Kadang, kita terpaksa mengakui bahwa manusia memang makhluk yang unik. Sifat adil pada manusia bisa terlahir pada susunan yang bukan hanya berbentuk seri, tapi juga paralel. Artinya, ada manusia yang mampu adil pada kepemimpinan di masyarakat, tapi gagal pada diri dan keluarga.

Boleh jadi, keunikan ini tidak berlaku pada umumnya manusia. Karena biasanya, orang yang gagal berlaku adil pada diri, akan sulit bersikap adil dalam kehidupan keluarga. Terlebih lagi dalam masyarakat dan negara. Inilah kenapa para pemimpin yang zhalim pada rakyatnya, pasti menyembunyikan masalah berat yang sedang terjadi antara ia dan keluarganya.

Seperti itulah dengan pemimpin Mekah di masa Rasulullah saw., Abu Sufyan semasa jahiliyahnya. Belakangan, baru terungkap dari mulut isterinya, Hindun, bahwa sang suami begitu kikir dengan uang belanja. Sehingga tak jarang, Hindun mencuri uang suaminya ketika sang suami lengah. Ada masalah ketidakadilan antara Abu Sufyan dengan Hindun, isterinya.

Hal inilah yang mungkin pernah dikhawatirkan Rasulullah saw. ketika isteri-isteri beliau menuntut hak yang lebih baik. Mereka merasa kalau kehidupan yang diberikan Rasulullah teramat sederhana. Beliau saw. khawatir hanya bisa mampu adil pada umat dan negara, tapi tak begitu dengan urusan rumah tangga sendiri. Beliau begitu bingung hingga mengurung diri beberapa hari. Akhirnya, Allah sendiri yang memberikan jawaban buat para isteri Nabi. "Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, `Jika kalian menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, kemarilah, akan aku berikan kesenangan kepada kalian dan aku akan menceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian, pahala yang besar" (QS. 33: 28-29)

Sedemikian bersihnya kepemimpinan Rasulullah saw. Tapi, toh, beliau mesti menghadapi tuntutan mutu keadilan yang lebih berat dan rumit. Apalagi jika kepemimimpinan sudah terkontaminasi dengan kepentingan. Ini akan jauh lebih rumit. Akan selalu muncul kecenderungan yang menggiring seseorang untuk berada pada satu tepi timbangan, dan lengah dengan tepi yang lain.

Boleh jadi, emosi menggiring seseorang hingga ia tak lagi mampu berlaku adil. Kebencian terhadap sesuatu kerap membuat seorang pemimpin mengurangi timbangan pada sesuatu itu. Di saat itulah, bentangan layar keadilannya timpang. Kapal kepemimpinan pun bukan hanya tak sampai tujuan. Bahkan, bisa tenggelam pada samudera masalah yang terus bergelombang. Hingga akhirnya kapal itu mendarat di dasar samudera. Naudzubillah..

Rabu, 18 Juni 2008

Selasa, 10 Juni 2008

Inbox

SEPERTI biasa, Farhan selalu membawa laptop (komputer jinjing) miliknya. Begitu pun ketika ia berangkat ke Kualalumpur (Malaysia) untuk menemui dosen pembimbing di Universitas Malaya Kualalumpur, tidak lupa membawa barang berharga itu. Ia pun sadar laptop itu hasil dari nyicil alias kredit.
Sehari sebelum berangkat, Jumat pagi Farhan minta bantuan kepada istrinya untuk menyiapkan keperluan ke Kualalumpur. Termasuk minta istrinya men-charger laptop yang berada di atas meja ruang kerja. Sedangkan Farhan sibuk menyiapkan bahan-bahan hasil penelitian yang akan dikonsultasikannya ke dosen pembimbing. Maklum, kalau sudah ketemu dosen pembimbing banyak yang perlu dijelaskan terutama soal hasil angket bahan penelitian untuk tulisan disertasinya. Apalagi pembimbing satu ini selalu menanyakan sampai pada hal-hal sekecil apa pun. Pernah ia menanyakan mengapa responden kebanyakan perempuan.
Sabtu sekitar pukul 07.00 Farhan bersiap ke Bandara Internasional.

Senin, 09 Juni 2008

Emak Brothers


Ada Wak Sok Mariam, Isat Asia bersama sang suami Isat wancik, dan Umak Mahna waktu momentum Lebaran Puasa 2005

ACTION NADRA

SMILE NADAdan ASSHA

SMILE NADRA

SMILE

Minggu, 08 Juni 2008

Singapore

Dempo Mount


Background Dempo mount, at tea

Parai beach



Memanfaatkan waktu libur kami rombongan kantor BP jalan-jalan ke Bangka asyik ya

parai beach

parai beach

PARAI BEACH


SAAT-SAAT KEBERSAMAAN TEMAN KANTOR BP JALAN-JALAN KE BANGKA, KE PARAI BEACH

Jumat, 25 April 2008

Kepemimpinan Perempuan Anisatul Mardiah

Kepemimpinan Perempuan
Anisatul Mardiah



Kepemimpinan apa pun bentuk atau nama dan cirinya dan ditinjau dari sudut pandang mana pun harus selalu dilandaskan pada kebajikan dan kemaslahatan serta mengantarkan pada kemajuan. Kepemimpinan harus dapat menentukan arah, pintar menciptakan peluang dan inovatif dalam melakukan perubahan baru yang positif. Dengan kata lain seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas, kreatif, inovatif dan dinamis dalam berpikir. Oleh karena itu, bila membahas masalah kepemimpinan maka tidak dapat dihindarkan untuk membicarakan tentang manusia dan potensinya, yaitu aspek intelektualitas, emosional dan spiritual.
Untuk menjadi seorang pemimpin masyarakat, diperlukan keunggulan baik intelektualitas, emosional maupun spiritual. Tolok ukur keunggulan seseorang dapat dilihat dari aktualisasi dirinya, baik di wilayah domestik (dalam keluarga) maupun wilayah publik (masyarakat). Aktualisasi diri di wilayah domestik dapat dibuktikan dengan pembagian tugas yang proporsional. Sedangkan aktualisasi diri di wilayah publik dapat dibuktikan dengan bekerja secara profesional di bidangnya. Bekerja secara profesional dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari petugas kebersihan hingga pemimpin sebuah perusahaan bahkan presiden suatu negara. Apabila manusia (laki-laki atau perempuan) dapat membagi tugas secara proporsional dan bekerja secara profesional maka ia dapat dikatakan sebagai makhluk yang unggul dan dapat dijadikan pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan bukan hak kaum laki-laki saja walaupun ada ayat al-Qur’an yang menyatakan: ar-rijaalu qawwaamuuna ‘ala al-nisa’. Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut berarti mereka (kaum laki-laki) melaksanakan secara sempurna fungsi-fungsi mereka sebagai suami terhadap istri mereka. Jadi ayat tersebut tidak dapat dipakai untuk melegitimasi kepemimpinan laki-laki atas perempuan secara umum.
Menurut Nursyahbani Katjasungkana, perempuan memiliki pengalaman khusus dalam kesehariannya yang hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri sehingga ia tahu apa yang menjadi kebutuhannya. Umpamanya, masalah kesehatan reproduksi, kesehatan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, diskriminasi di tempat kerja, diskriminasi di bidang hukum dan lain sebagainya. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi perempuan untuk ikut menjadi pembuat keputusan politik. Keikutsertaan perempuan dalam pembuatan keputusan dapat mencegah segala bentuk diskriminasi atau kebijakan yang tidak berpihak kepada perempuan.
Kesempatan bagi perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya di wilayah publik sekarang sudah sangat terbuka. Hal itu dapat dilihat dari upaya pemerintah dengan mengesahkan UU No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik yang mengaharuskan setiap partai politik menyertakan 30% keterwakilan perempuan dalam kepengurusan ditingkat pusat. Idealnya, perempuan tidak perlu menuntut kuota 30% seperti yang diamanatkan UU tersebut karena tuntutan kuota hanya akan menunjukkan kelemahan perempuan itu sendiri. Kalau perempuan memang berkualitas dan memiliki keunggulan, jangankan 30%, 100% pun boleh diraih. Akan tetapi, kendalanya adalah perempuan itu sendiri yang belum percaya diri untuk total menggeluti dunia politik.
Perempuan sebenarnya memiliki keistimewaan dalam hal kepemimpinannya, karena perempuan lebih sabar dan berempati di samping pintar dan lebih religius. Empati dan kesabaran merupakan ciri utama dari kecerdasan emosi seseorang. Dengan demikian, diakui atau tidak perempuan lebih cerdas emosinya daripada laki-laki. Selain itu, perempuan juga lebih jujur daripada laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari berbagi kasus kecurangan termasuk korupsi yang terjadi, pelakunya sebagian besar laki-laki. Jadi, apa kendalanya sehingga kepemimpinan perempuan masih diragukan? Saya menduga, kepemimpinan perempuan belum dapat diterima sepenuhnya karena masyarakat kita masih menganut sistem patriarkhal. Sistem tersebut masih menganggap perempuan tidak layak menjadi pemimpin. Sistem budaya masyarakat tersebut diperparah dengan adanya oknum yang “mengharamkan” kepemimpinan perempuan dengan menyitir ajaran agama untuk kepentingan golongan tertentu. Padahal, ajaran agama khususnya Islam mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang kehidupan.
Dalam bidang politik Rasulullah saw menegaskan bahwa: Setiap orang di antara kamu adalah pemimpin yang bertugas memelihara serta bertanggung jawab atas kepemimpinannya (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam ajaran Islam, setiap orang adalah pemimpin. Individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, ia mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas dirinya sendiri. Kepala keluarga, ketua rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW), kepala desa, lurah, camat, bupati/walikota, gubernur sampai presiden adalah pemimpin yang berwenang dan bertanggung jawab di wilayahnya masing-masing. Semakin luas ruang lingkup yang dicakup oleh wewenang seseorang, semakin luas pula tanggung jawabnya. Semakin luas tanggung jawab yang diemban seseorang, semakin berat dan luas pula persyaratannya.
Dalam ajaran Islam, ada empat kriteria yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu: Pertama, al-Shiddiq, yaitu kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap, serta berjuang melaksanakan tugasnya. Kedua, al-Amanah atau kepercayaan, yang menjadikan ia memelihara sebaik-baiknya apa yang diserahkan kepadanya baik dari Tuhan maupun dari masyarakat yang dipimpinnya sehingga tercipta rasa aman bagi semua pihak. Ketiga, al-Fathanah, yaitu kecerdasan yang melahirkan kemampuan menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul walaupun persoalan itu muncul mendadak dan tidak diprediksi terlebih dahulu. Keempat, al-Tabligh, yaitu penyampaian yang jujur dan bertanggung jawab atau dengan kata lain adanya keterbukaan dalam kepemimpinannya.
Dengan demikian, kepemimpinan bukan sekadar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya saja tetapi juga merupakan ikatan perjanjian antara sang pemimpin dengan Allah. Dengan kata lain, kepemimpinan merupakan amanah dari Allah dan masyarakat yang dipimpinnya. Akankah pemilukada walikota/wakil walikota Juni nanti atau pemilu presiden tahun depan akan melahirkan perempuan pemimpin? Hanya Allah yang tahu dengan pasti.

Rabu, 05 Maret 2008

MEMAAFKAN

Memaafkan


MEMAAFKAN kepada orang yang mengaku kesalahannya adalah perbuatan yang mulia. Rasanya tidak mungkin, jika seseorang menyampaikan mohon maaf dan kita tidak memaafkannya. Karena itu maaf bukan hanya urusan satu orang yang berkepentingan. Tapi maaf adalah bentuk interaksi sesama manusia.
Maaf, satu kata yang memiliki makna sangat dalam. Mengacu pada kamus besar bahasa Indonesia maaf diartikan sebagai :
-pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda,dsb) karena suatu kesalahan,
- ungkapan permintaan ampun atau suatu penyesalan
- ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu.
Pada umumnya kata maaf diungkapkan sebagai permintaan apabila seseorang melakukan suatu kesalahan, bisa juga diartikan suatu bentuk penyesalan.
Begitu dalamnya arti kata maaf maka sejak kecil, di rumah sudah mengenalkan dan mempopulerkan kata maaf ini.
Maaf itu bukan sekadar kata-kata yang berhenti di mulut. Maaf memiliki tanggung jawab berat, mencakup penyesalan yang dalam dan tulus atas kesalahan yang diperbuat. Memahami dan mengerti permasalahan yang sedang dihadapi akibat kesalahannya. Menerima risiko dari kesalahan yang diperbuat. Satu yang terberat adalah memiliki itikad baik untuk memperbaiki keadaan yang buruk menjadi lebih baik dan tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Bagi yang minta maaf, tentu harus dilandasi dengan keihlasan kesadaran akan kekhilafan yang diperbuat selama ini. Seseorang mengatakan untuk minta maaf lebih gampang, tapi kesadaran untuk mengubah atau memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat mengalami kesulitan. Kesadaran untuk memperbaiki itu adalah komitmen yang memang muncul dari dalam diri seseorang. Bagi yang memberi maaf juga harus dilandasi ikhlas. Sering orang telah memberikan maaf, tapi masih saja mempersoalkan kesalahan orang lain. Padahal dengan pernyataan maaf maka proses berikutnya clear dan tidak ada lagi masalah dengan orang itu.
Kini persoalan maaf jadi pembicaraan hangat. Hal ini menyangkut kasus almarhum Soeharto. Permintaan maaf dari keluarga Soeharto disampaikan saat konferensi pers di RSPP, sesaat setelah Pak Harto dinyatakan wafat.
Rakyat bisa saja telah memaafkan Pak Harto. Buktinya, penghargaan dan penghormatan terhadap mantan Presiden ke-2 terlihat dari refleksi liputan di media massa. Betapa media memberikan porsi yang besar dan pemerintah pun seolah-olah telah melupakan posisi Pak Harto seseorang yang masih bermasalah dalam proses hukum.
Mantan Presiden Soeharto telah dimakamkan di Astana Giribangun. Maaf telah diberikan oleh rakyat Indonesia. Tapi itu tidak menghalangi permintaan mengusut dugaan korupsi penguasa Orde Baru tersebut.
Mungkin kita pernah bosan memaafkan orang lain, terutama dari orang yang sama dengan kesalahan yang sama pula. Tentu saja bikin kita kesal.
Permintaan maaf mempunyai arti bahwa kita menyesali kesalahan yang kita perbuat yang melukai hati orang lain dan kita berjanji (berkomitmen) pada diri kita untuk tidak mengulanginya meskipun dalam cara maupun bentuk lain. Yang perlu diingat, kita jangan mengobral kata maaf atau menggampangkan, misalnya kita berkali-kali berbuat salah lalu kita dengan entengnya berkali-kali minta maaf tanpa upaya untuk memperbaiki diri. Jadi, kita pun harus berusaha supaya permintaan maaf kita itu dipercaya orang lain bukan kata-kata obralan yang hanya diucapkan sebatas bibir saja.
Lalu bagaimana kalau kita dihadapkan pada persoalan yang berat misalnya penghianatan, kebohongan, perselingkuhan, atau pembunuhan, kasus korupsi. Apa akan begitu mudah kita mengucapkan kata maaf dan memberi maaf. Kata memaafkan tetap dilakukan, tapi proses hukum tetap dijalankan.
Kembali lagi urusan maaf memaafkan ini gampang-gampang susah ya, balik juga ke pemahaman masing-masing memaknai esensi kata maaf itu sendiri. Tapi, kalau pun ingin hidup tenang, aman dan damai mendingan jadi orang yang pemaaf. Seorang pemaaf yang tulus, tanpa pamrih tidak peduli orang yang meminta maaf seperti apa, kalau Allah Maha Pengampun kenapa kita sebagai makhluknya yang lemah dan tidak sempurna menyombongkan diri dengan simpan rasa dendam.
Andaikan kita telah memaafkan Pak Harto, kita berharap nanti tidak akan muncul Pak Harto-pak Harto berikutnya yang membuat kesalahan yang sama dan cukup selesai dengan minta maaf. Tentu kita tidak mau hal itu terjadi. Inilah kesempatan kita ingin mewariskan sejarah yang benar. Demi keturunan anak cucu kita kelak. Kita sampaikan maaf kepada almarhum Pak Harto, dan kita berharap katakanlah dan luruskan sejarah bangsa. Proses hukum tetap dilakukan. O

PROFESIKU

Profesiku

SAYA yakin pasti ingat dengan kata-kata kuli tinta. Tentu saja maksudnya ingin menggambarkan sebuah profesi wartawan. Kata kuli tinta sangat akrab di telinga kita. Namun demikian kuli tinta hanya sebuah istilah untuk mengatakan ia adalah seorang wartawan. Kata kuli tinta sedikit kontradiktif, satu sisi kita ingin mengatakan wartawan sebuah profesi yang mulia tapi sisi lain ia disebut dengan kuli tinta. Apakah demikian adanya tuntutan profesi wartawan. Ya tahu sendiri kan kuli adalah pekerja kasar alias buruh. Memang patut kita mempertanyakan di balik profesi mulia sebagai wartawan yang menyampaikan kabar kebenaran, apakah kita ini tidak lebih dari seorang buruh di bawah belenggu para pemilik modal. Sering terlontar dari teman-teman wartawan sebagai buruh pers, buruh media. Kita menyadari perkembangan dunia kewartawanan seiring dengan perkembangan pers secara keseluruhan yang juga diikuti perkembangan teknologi yang menyertainya. Profesi wartawan, sungguh tugas yang menarik dan menantang. Sungguh banyak dinamika pengalaman liputan bagi wartawan yang sangat berat bagi ia untuk meninggalkan profesi wartawan.
Mungkin juga sudah tidak tepat jika dikatakan kuli tinta, karena saat ini wartawan bertugas telah mengandalkan kemajuan teknologi. Cukup dengan satu ponsel, wartawan telah bisa merekam, mengetik berita, sampai pada mengirim berita ke kantor redaksi. Cukup dengan satu ponsel yang telah dilengkapi fiturnya bisa mendukung pekerjaan wartawan.
Kembali lagi kita mengingatkan berkaitan dengan peringatan hari pers nasional pada 9 Februari 2008, secanggih apa pun perkembangan teknologi media dan kemajuan masyarakat pembaca. Bahwa tugas pokok wartawan tetap pada koridor idealisme dan integritas seorang insan pers.
Secara prinsipiil-filosofis, yang dimaksud dengan wartawan (kuli tinta, kuli disket, jurnalis, dsb.) merupakan profesi seseorang yang menuntut keandalan untuk bersikap, berinstingtif dan berdaya intelektual prima dalam menghasilkan berita, informasi (aktual dan obyektif).
Prosedur kerja sosok wartawan, miriplah pekerjaan sang detektif. Mereka dituntut secara profesional untuk selalu mengawal dinamika perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Mereka jua yang menyaksikan sendiri secara langsung setiap peristiwa penting yang sarat bernilai berita untuk ditulis sendiri dan atau dikerjakan oleh orang lain di meja redaksi.
Selain mengandalkan kevalidan data -yang meliputi formula paten berita 5W+H (What, Who, Where, When, Why+How)- kadar “tinggi-rendahnya” nilai berita tergantung faktor antara lain: aktualitas, kedekatan (berhubungan dengan jarak), penting (terkait sosok orang yang diberitakan, ingat dengan names make news), keluarbiasaan, akibat, insiden musibah, konflik, human interest, crime dan sebagainya.
Secara konkrit, sampai saat ini masih ada tiga media massa yang mendominasi persebaran informasi publik. Tiga media massa itu meliputi media massa cetak dan elektronik. Lebih spesifik lagi, yaitu media massa berupa radio, surat kabar (koran), teve serta internet. Sejatinya, tak ada perbedaan mencolok antara wartawan televisi, kuli tinta koran dan jurnalis radio. Sebab, antara ketiganya (baca; jurnalis teve, radio, koran) memiliki titik singgung (persamaan) yang hampir identik. Yakni sama-sama melakukan kegiatan jurnalistik bernama reportase (kegiatan peliputan berita), maka orangnya disebut reporter, dari medan lapangan.
Yang membedakan ketiganya, hanyalah hasil akhir laporan reportasenya—inipun lebih banyak dipengaruhi oleh produk akhirnya tadi berupa media audio saja (radio), media visual (statis) saja (koran) dan media audio plus visual (teve). Tentu pula, instrumen pembantu yang digunakan untuk melakukan kegiatan reportase bagi tiga jenis makhluk wartawan koran, teve dan radio juga berbeda. Wartawan teve selalu menenteng handicam di tangan, sedangkan “senjata” yang dimiliki reporter radio berupa tape recorder serta jurnalis koran identik dengan kamera digital ataupun analog.
Tapi semua itu bukanlah instrumen mutlak, karena di antara ketiganya bisa saling melengkapi (komplementer). Bila kita membaca surat kabar (koran), kita mempunyai kesempatan untuk mengulangi beberapa kali, sebosan kita. Atau bahkan menangguhkan membacanya hingga sampai beberapa jam kemudian. Tidak demikian halnya dengan berita yang disiarkan radio. Bahasa radio hanya dibacakan sekali saja. Tak diulang-ulangi, layaknya membaca koran atau menonton VCD Player. Kalaupun diulang, pengulangan itu tentulah pada penyampaian berita pada waktu berikutnya, saat pendengar semula sudah meninggalkan tempatnya. Kembali kita mengingatkan kepada insan pers, kembali kepada tugas utama seorang wartawan jangan pernah untuk menyerah dalam mengungkapkan kebenaran sejati. Untuk kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa kita. O

PEMANDU SORAK

Pemandu Sorak

Firdaus Komar


SEBELUM pertandingan bola basket dimulai, panitia telah menyiapkan suguhan acara yaitu penampilan pemandu sorak. Satu tim pemandu sorak biasanya terdiri dari 5-10 orang. Menariknya lagi pemandu sorak terdiri dari cewek-cewek kece, dengan busana rame. Pastinya penampilan mereka melengkapi suatu even dan menjadi daya tarik para penonton.
Biasanya juga panitia pelaksana kejuaraan basket selain menggelar pertandingan basket juga lomba pemandu sorak. Cukup sering kan kita menyaksikan penampilan para pemandu sorak.
Pemandu sorak ini menampilkan teknik Cheerleading meliputi motion, partner stunts, pyramids, tumblings, jumps. Satu hal yang ditampilkan para pemandu sorak ini yaitu teriakan. Betapa mereka mengajak penonton untuk bersorak dengan lengkingan teriakan. Ibarat suatu kepuasan, mereka akan puas dengan penampilan mereka yang berteriak dan menunjukkan konfigurasi kekompakan.
Layaknya pemandu sorak kadang-kadang tanpa sadar kita ikut berteriak di depan pesawat TV. Lihat saja ketika kita menonton bintang sepakbola sedang berlaga di lapangan hijau. Atau pun ketika kita nonton aksi Valentino Rossi saat melakukan manuver di tikungan dan akhirnya meraih juara balap motor. Kemudian muncul rasa puas sendiri. Dengan bangganya kita akan bercerita kepada orang lain tentang kehebatan Rossi di arena balap, atau cerita soal kehebatan Kaka mengocek bola kemudian menciptakan gol.
Sama halnya yang dirasakan warga Sumsel baru-baru ini, mereka bagaikan terhipnoptis atas penampilan klub Sriwijaya FC. Sebut saja bintang para pemain asing di antaranya Zah Rahan, Kayamba, Obiora cukup dikenal oleh masyarakat Sumsel. Ketiga pemain asing inilah yang menciptakan gol ketika melawan PSMS Medan pada laga final Liga Indonesia 2007.
Untuk bersorak melihat bintang di TV ini kita rela meninggalkan tugas yang telah menjadi kewajiban kita yang lain. Siapakah Zah Rahan, Kayamba, Obiora, Lenglolo, Renato yang menjadi pilar SFC ini. Siapakah Rossi ini sehingga kehadirannya sanggup mengganggu jadwal kerja kita? Toh jika pemain sepakbola ini memenangkan klub SFC, kita tak kebagian hadiahnya. Begitu pun jika Rossi menang balapan, kita tak kebagian medali dan hadiahnya. Jika mereka juara, kita juga tak ikut menjadi berprestasi karenanya. Apapun yang dia kerjakan mestinya tak dipedulikan karena mereka juga tak mengenal kita. Pertanyaannya, kenapa orang yang sama sekali asing ini sanggup menghentikan kegiatan kita.
Mestinya kita lebih berkonsentrasi pada prestasi diri sendiri katimbang prestasi mereka. Saya pikir, betapa banyak dari kita ini lebih suka berkonsentrasi pada prestasi orang lain. Orang lain yang balapan, main sepakbola kita yang teriak-teriak di pinggir jalan dalam acara nonton bareng. Padahal asal tahu saja, orang asing yang bekerja sebagai pemain sepakbola di Tanah Air kita telah menghabiskan uang rakyat, uang APBD. Duh kasihan rakyat kita, lagi susah, mau beli sembako saja sulit. Semuanya menjerit dan mencekik.
Tapi ini wajah rakyat kita, orang lain yang lomba nyanyi, kita yang menghabiskan pulsa untuk kirim SMS. Sudah harus rugi waktu, rugi tenaga, rugi biaya pula. Sudah rugi demikian rupa, jika orang lain itu kalah, kita masih harus ikut berduka. Jika dia menang, kita ikut gembira seolah-olah ikut kebagian hadiahnya. Padahal tidak. Ia sama sekali tidak mengerti kita, kenal pun tidak. Susah payah kita mendukungnya hingga ke puncak juara, sementara prestasi kita sendiri tetap seperti sedia kala. Sementara orang lain menjadi juara, kita tetap di sini, cukup sebagai pemandu sorak saja.
Sudah puaskah kita? Tentu saja yang perlu kita ingat dalam menjadi pemandu sorak. Jangan hanya puas pada satu titik muara saja. Saatnya pun kita membangun kesadaran bersama, bahwa dari posisi kita sebagai pemandu sorak agar dapat mengambil inspirasi dari penyitaan waktu yang kita korbankan untuk mendukung prestasi orang lain.
Kita boleh bangga dengan prestasi bintang kita, tapi saat itu pula kita juga harus menata diri menggapai meningkatkan kualitas diri demi mencapai prestasi. Omong kosong orang akan meraih prestasi tanpa mimpi dan obsesi. Lihat saja seorang bintang tenis lapangan Martina Navratilova telah memberikan inspirasi kepada orangtua dari Martina Hingis. Orangtua Hingis ingin anaknya menjadi bintang seperti Martina Navratilova. Akhirnya anaknya diberi nama Martina. Mimpi dan obsesi orangtua Hingis menjadi kenyataan. Semoga kita begitu. O

WARNA

Warna


BAYANGKAN jika di dunia ini tanpa ada warna, semuanya akan statis dan membosankan. Tidak ada dinamika dan tidak ada perbedaan. Mungkin juga jika tidak ada warna, maka tidak ada kehidupan. Tapi, rasanya tidak mungkin demikian. Denyut kehidupan sejatinya adalah dinamika warna.
Oleh karena itu, anak-anak sejak usia dini telah diajarkan untuk mengenal aneka warna. Walaupun ia belum mengerti makna sebuah warna, namun demikian anak-anak hafal nama warna.
Begitu penting sebuah warna. Warna bukan hanya simbol, warna bukan hanya corak rupa seperti merah, putih, hijau, kuning. Tapi warna telah memberikan napas dan roh kehidupan. Yakinlah, warna juga telah membuat seseorang semangat, penuh dengan spirit dan optimis dalam menyikapi suatu perubahan. Namun demikian, sehebat apa pun kekuatan warna, tak akan berarti apa-apa. Jika tidak ada kekuasaan Tuhan yang telah memberikan umatnya kemampuan melihat dan menikmati warna-warni kehidupan. Kemampuan indera mata telah memberikan arti bagi soseorang dalam menentukan pilihan hidupnya untuk menikmati warna yang ia sukai.
Apalagi menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) di sejumlah daerah di Sumsel, sejumlah bakal calon kandidat telah menggunakan simbol warna. Bahkan ada kandidat Cagub telah mengklaim warna ungu menjadi warna pilihan dalam kampanye nanti. Ada juga calon yang telah mengibarkan Tim Oranye. Mungkin nanti ada warna merah, kuning, hijau, atau berbagai warna yang menurut mereka memiliki arti dan keberuntungan.
Tinggal lagi pilihannya diserahkan kepada rakyat Sumsel. Tidak perlu terjebak dalam simbol warna. Tapi mulai saat ini perlu dipelajari dan dalami apa yang menjadi program dari bakal calon kandidat. Masalahnya kini massa dan rakyat keseluruhan hanya dijejali dan dipamerkan slogan-slogan program yang notabene kita tidak tahu kebenarannya. Saatnya rakyat sebagai pemilih untuk tidak terpengaruh dengan berbagai slogan-slogan. Apalagi slogan-slogan itu muncul dari para pengekor.
Oleh karena itu, mulai sekarang perlu membuka dialog dengan semua bakal calon kandidat. Para pemilih perlu membikin jaringan pemilih cerdas, untuk membedah program para kandidat. Sehingga pada akhirnya akan tahu, mana program yang hanya slogan dari pengekor dan mana program yang telah terbukti dari sang pelopor. Bukti nyata inilah yang menjadi contoh bagi pemilih ketika harus memilih. Karena cukup sudah, rakyat kita yang dibodohi, sedangkan rakyat makin sulit. Sulit untuk membeli sembako, sulit untuk mendapatkan akses pelayanan umum. Ibarat rakyat ini adalah komposisi warna, yang ada hanya warna hitam yang luntur. Masa depan yang akan dihadapi dalam keadaan hitam dan gelap.
Dalam keadaan gelap gulita, tidak tahu arah kemana mau dibawa. Saatnya pemimpin rakyat muncul untuk menerangi warna kegelapan ini. Tentu saja dengan warna cerah, terang, sejuk dan menyenangkan bagi rakyat. Kemampuan pemimpin baru, pemimpin masa depan Sumsel yang mampu membawa pencerahan bagi rakyat Sumsel. Di balik warna yang cerah yang bakal dibawa oleh bakal calon pemimpin Sumsel, tentu saja bukan warna yang menyilaukan, bukan warna yang menggugupkan dan menakutkan rakyat.
Warna-warna itu semoga membawa rakyat akan lebih baik. Warna yang membawa rakyat tidak lagi terjepit dalam impitan kemiskinan dan kemelaratan. Warna yang membawa rakyat tidak takut lagi untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang berkualitas, warna yang membawa rakyat untuk tidak khawatir jumlah tagihan biaya berobat yang makin mencekik. Rakyat tidak takut lagi menjadi pengangguran atau pun rakyat tidak takut lagi menghadapi hidup ini, karena secara otomatis kualitas rakyat telah terjamin dan begitu pun lowongan kerja telah tersedia.
Jika garansi warna baru yang bakal diusung para calon kandidat dapat memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan hak-hak rakyat yang harus dipenuhi, sudah saatnya bagi kita untuk menjatuhkan pilihan kepadanya. Kembali lagi kita mengingatkan tidak perlu tergesa-gesa akan menentukan keputusan, karena pada akhirnya bermuara kepada satu keputusan yang bertumpuh pada hati nurani. Apa kata nurani, jangan ingkari nurani, jagalah hati dalam menetapkan pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab dalam mengemban dan memajukan Sumsel. Selamat untuk memilih!

Jumat, 04 Januari 2008

HILANG

Firdaus Komar

Hilang


SENJA menjelang malam, kembali matahari menghilang dari pandangan mata. Kemudian muncul kegelapan malam. Tidak lama kemudian gemerlap bintang bertebaran di langit. Siklus kehidupan yang kita rasakan, yang kita lihat, yang kita jalani demikian adanya. Selalu muncul siang dan malam. Malam hilang berganti siang dan siang hilang berganti malam.
Ibarat roda kendaraan yang sedang melaju kadang berada di bagian bawah dan kadang berada di atas. Semuanya berjalan dengan normal. Berbagi waktu antara siang dan malam tidak pernah membuat mereka ribut atau pun cemburu. Siang tidak merasa iri melihat malam yang indah dipenuhi kerlap kerlip bintang, sebaliknya malam tidak merasa iri dengan kondisi siang karena ada matahari menyinarinya.
Inilah keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan. Tatanan kehidupan selalu terlahir dengan seimbang. Hanya ulah manusia saja yang membuat alam lingkungan ini rusak dan tidak seimbang. Ketika iklim dan cuaca tidak lagi seimbang, bencana akan selalu datang. Berbagai nama badai menyerbu. Manusia hanya bisa pontang panting berpikir untuk menyelamatkan nyawa.
Pemanasan global telah menjadi masalah dunia. Lantas apakah ini tanda-tanda dunia akan kiamat. Apakah puncak dari persoalan umat manusia di muka bumi ini pada akhirnya akan bermuara pada hari akhir yang disebut dengan kiamat. Pertemuan delegasi dunia di Bali yang membahas isu pemanasan global, mungkinkah akan menyelamatkan planet bumi ini. Kita tunggu saja. Namun demikian, penyelamatan dunia bukan saja tanggung jawab satu pihak. Semua orang harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan tugas. Paling penting siapa pun dia dapat bertindak pada tataran lokal. Sekecil apa pun tindakannya akan sangat berarti dalam menata planet bumi ini.
Sebaliknya, ketika tindakan manusia untuk menyelamatkan dunia menghilang, manusia tidak lagi memiliki budaya dan peradaban maka yang muncul kemudian tindakan biadab yang menghancurkan masa depan.
Pada sisi lain, para penguasa cenderung dengan segala cara akan mempertahankan kekuasaannya. Jika sudah duduk di tampuk kekuasaan, selalu ingin terus duduk dalam kekuasaan. Pejabat negara sudah kehilangan kewibawaan. Proses penegakan hukum telah kehilangan arah. Sistem pendidikan yang diterapkan acak-acakan, tidak ada rujukan nilai-nilai yang jadi roh. Pemimpin negara telah kebingungan, bingung mau dibawa kemana perahu besar rakyat Indonesia ini. Kita khawatir para pemimpin negara telah kehilangan kemudi perahu. Akibatnya daya saing bangsa kita jadi rendah. Ketika nilai rupiah sangat bergantung dengan mata uang asing terutama dolar AS, bahkan kebijakan ekonomi yang merupakan jantung kekuatan perekonomian bangsa kita selalu dalam posisi tidak menguntungkan rakyat. Ketika harga minyak mentah melambung, posisi ekonomi bangsa pun terambung-ambung. Kebijakan mendadak dari pemerintah makin membuat rakyat susah bernapas.
Di tengah rakyat mengalami sesak napas, rakyat telah kehilangan kepercayaan. Rakyat bingung, tiba-tiba semen menghilang, beras menghilang, minyak goreng langka, pupuk sulit diperoleh, benih padi dipalsukan. Lahan pertanian tiba-tiba menghilang, telah digusur dan diambilalih untuk pembangunan pencakar langit.
Sangat sulit untuk membangkitkan dan mengembalikan kepercayaan rakyat. Saat rakyat kita memberikan amanah dan kepercayaan kepada wakilnya kepada pemimpinnya. Mereka tak pernah amanah. Selalu ingkar janji. Jangankan untuk menikmati hidup sejahtera, hak-hak dasar rakyat pun belum terpenuhi.
Sedangkan para koruptor yang dengan mudah menikmati duit rakyat telah menghilangkan bukti-bukti aset kekakayaan. Sang koruptor pun menghilang tak tahu kemana. Ditambah lagi para pemberantas korupsi juga telah kehilangan pasal-pasal tuntutan para koruptor.
Kini semuanya telah menghilang. Pulau-pulau kecil yang merupakan rangkaian satu kesatuan wilayah Indonesia banyak yang menghilang. Pulau itu menghilang karena pasirnya dijual diekspor illegal. Kekayaan laut menghilang karena dicuri dan dijual keluar, kayu-kayu ditebang dan menghilang dari tanah kelahiran kita. Budaya dan kesenian daerah asli Indonesia kehilangan makna karena diklaim milik bangsa lain. Mengapa kita tidak menghargai budaya asli bangsa kita. Selalu ingin mengatakan budaya luar lebih baik. Terjadilah mengimitasi budaya luar.
Masih untung harga diri kita belum menghilang. Namun demikian, patut kita mempertanyakan sebesar apakah harga diri yang kita miliki. Karena pertanyaannya pada rasa idealisme, kejujuran, integritas, dan komitmen yang kita miliki.
Karena itu mulai saat ini dengan modal harga diri, kita membangun dan menata diri, keluarga, lingkungan, masyarakat, sampai pada negara. Dengan rasa idealisme, kejujuran, integritas, dan komitmen kita bangun bangsa dan kita. Sebelum dunia dan Indonesia menghilang, masih ada waktu buat kita untuk menyelamatkannya. O

HARGA DIRI

Harga diri

SEJAK kapan seseorang menyadari dan tahu tentang harga diri? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Jika seseorang itu telah menyadari memiliki harga diri, maka sejak itu pula ia akan tahu tentang siapa dirinya.
Seseorang akan tahu posisi dan fungsi hakikat dirinya. Seseorang akan sadar dan memahami hakikat penciptaan dirinya sebagai manusia.
Akan tetapi pemahaman seseorang terhadap harga diri jadi beragam. Sangat bergantung tingkat pemahaman dia terhadap tugas, posisi, dan fungsi kebaradaan dia.
Tentu saja hal ini berdasarkan kemampuan seseorang dalam merespons proses hubungan sosial dalam lingkungannya.
Harga diri yang dimaksud adalah nilai atau kehormatan yang menyangkut martabat. Martabat bagaikan bangunan konstruksi sosial yang dianggap memiliki tatanan. Martabat lantas menjadi bagian penting bagi keberadaan manusia—baik pribadi maupun kelompok. Demikian pentingnya asumsi martabat manusia sampai-sampai ia menjadi pertaruhan hidup-mati bagi orang per orang, kelompok, maupun suku-suku bangsa tertentu.
Ibarat sebuah ponten, sebenarnya nilai kehormatan seseorang dapat diukur secara operasional. Karena implementasi perilaku seseorang akan tergambarkan, apakah orang itu memiliki harga diri atau sebaliknya.
Persoalannya, ada yang sadar jika ia senyatanya tidak memiliki harga diri. Sebaliknya ada yang memang tidak menyadari kalau dirinya sudah tidak berharga lagi. Mungkin bagi yang menyadari jika tidak memiliki harga diri, akan berusaha untuk mengembalikan posisi harga diri. Tetapi, alangkah sedih melihat orang-orang yang tidak tahu jika harga dirinya pun telah terjual.
Saat harga diri telah terjual, tidak ada lagi ukuran dalam menata hubungan sosial kemasyarakatan. Harga diri yang ditampilkan semuanya akan semu. Hal seperti ini inilah yang menimbulkan kecamuk antarumat manusia.
Anehnya harga diri semu akan terus dikejar orang. Seperti orang mengejar bayang-bayang sendiri. Mereka tidak menyadari martabat yang senyatanya hanya bisa dikejar dengan perbuatan nyata, perilaku, budi baik, dan prestasi yang menimbulkan rasa hormat. Martabat tak mungkin diraih hanya dengan sekadar membangun wacana. Karena wacana itulah yang sesungguhnya semu dalam pengertian martabat sebenarnya.
Seumpama harga diri itu sebuah idealisme, kejujuran, integritas, dan moralitas, maka mereka yang telah menjual semuanya itu tentu tidak memiliki lagi harga diri. Para pejabat negara, pejabat pemerintah sampai pada pamong terbawah jika tidak memiliki harga diri lagi maka rakyat pun menderita. Bayangkan jika pengelola negara ini tidak mau lagi mendengar hati nurani, mendengar nurani rakyat, maka negara pun akan terjual. Bangsa kita tidak memiliki martabat lagi. Jangan bicara daya saing dari segala aspek. Semua aspek sepertinya tak ada yang patut dikedepankan.
Masih adakah yang bisa membangkitkan rasa kepercayaan diri dan meningkatkan harga diri? Kekayaan alam Indonesia yang kita bangga-banggakan sejak dulu kala, ternyata habis hanya dinikmati segelintir orang. Pemanfaatan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat hanya ada dalam konstitusi. Tidak diimplementasikan untuk kemakmuran rakyat.
Rakyat makmur hanya utopia. Kenyataannya rakyat masih miskin, rakyat masih antre minyak, rakyat masih kesulitan membeli sembako, rakyat belum bisa mendapatkan fasilitas pendidikan gratis.
Kesejahteraan masih dalam mimpi. Hutan-hutan gundul karena ditebang dan hasilnya dinikmati pemegang HPH, sedangkan rakyat hanya mendapat penderitaan. Banjir di mana-mana, tanah longsor setiap saat mengancam, berbagai bencana terus mengintai. Janganlah sampai rakyat kita mati karena kecemasan dan ketakutan yang terus menghantui.
Dengan beban begitu berat, masih untung anak-anak masih bisa sekolah. Walaupun kita tidak tahu kualitas sekolah itu.
Saat ini mungkin saja ada yang berpandangan, untung masih bisa makan. Bayangkan, harga beras makin melambung. Sistem pertanian kita pun masih semrawut. Menjelang musim tanam, pupuk menghilang dan harga jadi naik, benih padi dipalsukan.
Masih adakah peluang kita untuk memperbaiki kesalahan dan kesalahan selama ini? Harus ada tekad dan komitmen bahwa hal ini harus diperbaiki.
Langkah awal saat ini kiranya semua elemen menumbuhkan rasa kepercayaan pada diri. Rasa percaya untuk bangkit dan bangun bersama. Gelorakan semangat percaya diri dan membangkitkan roh-roh kehidupan rakyat. Pejabat sudah saatnya tampil menggelorakan semangat hidup, semangat untuk rakyat. Bukan saatnya lagi pejabat untuk dilayani dan bersemangat ‘akal-akalan’ untuk berkorupsi. Jika tatanan pemerintahan dan rakyat solid, maka negara akan kuat. Pada akhirnya kekuatan bangsa akan menjadikan kekuatan bersama yang membuat harga diri bangsa kita akan bermartabat. O

PESTA

Pesta

SEORANG karyawan mengeluh. Gaji per bulan yang ia terima tidak pernah mencukupi. Untuk biaya operasional sehari-hari terpaksa harus ngemplang ke teman atau tetangga. Biaya paling besar, ya itu ongkos transportasi untuk beli bensin. Apalagi ia mendengar pemerintah akan menaikkan harga BBM, hatinya bertambah kalut. “Wah kalau masih kerja seperti ini uang makin tidak cukup,” kata karyawan tadi.
Sebenarnya peluang ia untuk menerima uang sogokan dari kliennya cukup besar. Tetapi, ia selalu ingat terus soal idealisme. Rasanya tidak akanlah menerima uang ‘terima kasih’.
Karyawan yang masih bujang ini sebenarnya telah menjajaki untuk merencanakan berumah tangga. Ia menceritakan, kalau ia sebenarnya telah punya niat akan menikah. Apalagi dirinya telah mantap punya calon istri. Hanya saja tradisi yang seolah-olah menjadikan fardu a’in, jadi wajib untuk melaksanakan pesta perkawinan.
Ia selalu membayangkan pesta perkawinan tidak cukup dengan uang Rp10 juta. Apalagi ia membayangkan ada orang yang menggelar acara pesta perkawinan yang menghabiskan uang ratusan juta sampai miliaran rupiah. Wah…wah…, dari mana uangnya?
Karyawan ini pun mempertanyakan mengapa harus ada pesta. Mengapa rasa syukur harus menjalankan tradisi pesta. Ia pun menjawab atas pertanyaannya. Sepertinya tidak bisa dipungkiri, kondisi masyarakat dewasa ini ingin menampilkan secara visual-kontemporer bahwa pernikahan adalah sebuah fenomena luar biasa sehingga sebagai mediasi kepatuhan terhadap etika sosial mereka merepresentasikannya dengan mengadakan resepsi pernikahan yang dianggap pula sebagai tanda syukur.
Tapi kadang-kadang kita salah menempatkan wujud rasa syukur dengan menggelar pesta. Bayangkan, misalnya seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Lalu menggelar acara syukuran dalam wujud pesta makan-makan ditambah lagi dengan acara karaoke atau mengundang pemain musik organ tunggal.
Dalam sebuah pesta selalu identik dengan keramaian dan senang-senang, pamer kemudian mengeluarkan biaya besar. Kalau kita merefleksikan sebuah acara pesta perkawinan atau pesta lainnya boleh jadi ada nilai silaturahim. Tapi di balik kekuatan silaturahmi, rasanya cukup sulit jika dikatakan hal itu merupakan wujud rasa syukur. Lihat saja jika anak pejabat atau kalangan borju yang mau menggelar pesta perkawinan. Dari desain dan cetak undangan yang tentu saja seharga berkilogram beras, sewa gedung atau hotel mewah, belum lagi berbagai macam tradisi yang harus dijalankan. Boleh jadi sepanjang hal itu tidak memberatkan, mungkin masih bisa diterima. Tetapi ketika hal itu telah menjadi kewajiban yang mesti dijalani, lantas hal ini akan menjadi beban. Bayangkan, orang yang mau menikah, tetapi ditambah beban harus memikirkan biaya besar yang bakal dikeluarkan.
Pesta dalam batas-batas wajar masih bisa dijalankan atau kita terima, jangan sampai sebuah pesta harus menganiaya pihak lain dan mengabaikan hak-hak orang lain. Misalnya, seorang borju berpesta dengan uang miliaran rupiah. Walaupun itu dilakukan dengan menggunakan biaya sendiri, tetapi apakah kewajiban ia kepada orang tidak mampu, telah dijalankan. Apalagi jika sebuah pesta itu menggunakan uang rakyat melalui dana APBD. Sungguh tidak pas, jika memanfaatkan APBD untuk berpesta hanya untuk mencapai prestise. Misalnya pesta launching Visit Musi 2008 yang harus menghabiskan dana miliaran rupiah. Rasanya sayang, acara besar menghabiskan uang tapi sedikit benefit bagi rakyat.
Kini pesta makin laris, makin disukai orang-orang. Orang pada suka pesta narkoba, pesta seks, atau pun pesta shabu-shabu. Orang suka akan hal yang mengenakkan bagi dirinya. Orang suka terhadap pesta yang dilarang. Setiap hari ada penangkapan dan penggeledahan pesta narkoba, tapi tiap hari pula peredaran narkoba untuk dijadikan pesta.
Ya masih untung, seorang karyawan tadi mengeluh hanya karena gaji kecil. Tidak mengeluh karena tidak ada biaya untuk pesta narkoba atau pun pesta seks. Ia pun masih bersyukur, ternyata masih diberi kesempatan menikmati dinamika kehidupan di dunia ini.
Rasa syukur yang ia ungkapkan tidak diimplementasikan dalam acara pesta. Sebegitukah rasa syukur kita? Aku sendiri sering merasa malu, karena teringat bahwa kurang bersyukur dengan apa yang ada, dan sering menyesali kekurangan yang ada. Tidak menyadari bahwa telah begitu banyak yang telah kita peroleh. Mensyukuri apa yang dimiliki saja belum, tapi masih saja mengharapkan lebih.
Seseorang yang bersyukur berarti dia menyadari hakikat dirinya, dan menyadari sepenuhnya akan kehadiran Sang Khalik. Sebagai wujud dari syukur itu, dirinya akan berusaha sepenuh hatinya untuk menjalankan semua perintah-Nya. Dalam beribadah, dan dalam bermuamalah dengan sesama. Timbullah ketaatan dalam dirinya. O