Jumat, 14 Desember 2007

GRATIS

Gratis

GRATIS, demikian jargon jualan yang selalu memikat konsumen. Barang apa saja jika ditawarkan gratis akan cepat habis. Jangankan ditawarkan cuma-cuma, ditawarkan dengan harga lebih murah dari harga normal saja akan lebih cepat terjual.
Makanya tidak heran jika sesuatu yang gratis selalu dimasukkan dalam strategi marketing. Cara pedagang menawarkan barang dengan embel-embel gratis akan menggairahkan konsumen dalam berbelanja. Trik seperti ini tentu saja sering kita temukan. Misalnya, beli satu gratis satu. Belanja Rp200 ribu akan mendapatkan hadiah selusin gelas atau suvenir cantik.
Demikian, hampir pada tiap bisnis bidang tertentu terjadi ‘perang’ promosi dengan menggunakan kata gratis. Kita lihat saja dalam dunia telekomunikasi, antarperusahaan telekomunikasi berlomba menawarkan program gratis. Misalnya, gratis 100 SMS atau gratis menelepon ke sesama operator. Banyak sekali promo gratis yang dilakukan perusahaan seluler.
Bahkan kita temukan web-site yang menyediakan space iklan gratis. Peluang pemasangan iklan gratis itu telah disiapkan dalam dunia maya. Tinggal klik saja, orang yang men-download situs itu bisa memasukkan iklan tanpa harus bayar. Konsumen benar-benar dimanjakan oleh banyak pilihan.
Jika semua perusahaan telah memromosikan produk gratis, tentu saja konsumen tidak akan memilih semua produk itu. Pilihannya pasti satu. Ibaratnya –mengambil contoh produk seluler— jika semua operator menawarkan promosi gratis, tidak mungkin konsumen akan memilih semua produk yang ditawarkan operator. Pasti produk dari satu operator saja yang dipilih.
Upaya pemerintah untuk menggantikan kebiasaan menggunakan minyak tanah dengan elpiji juga meluncurkan program bagi-bagi tabung gas dan kompor gas. Bayangkan, jika rakyat harus membeli tabung dan kompor gas sendiri, tentu akan sulit untuk menyukseskan program konversi dari minyak tanah ke elpiji. Karena kompor dan tabung gas dibagi gratis, mereka yang sudah memiliki tabung gas pun ingin mendapatkan yang gratis.
Menjelang pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Provinsi Sumsel dan kabupaten/kota saat ini, penawaran program gratis pun jadi ikon calon kepala daerah dalam berpromosi. Lihat saja dari stiker dan alat peraga yang dipasang di rumah dan jalan, betapa banyak tulisan sekolah gratis dan berobat gratis. Sama halnya sebuah produk, penawaran program gratis ini sebenarnya untuk menarik minat para pemilih.
Hanya saja agak berbeda ketika penawaran gratis ini dilakukan oleh calon kepala daerah yang telah menjabat sebagai kepala daerah. Rakyat tentu saja dapat merasakan program apa yang selama ini telah dilakukannya.
Kalau kita membeli produk seluler dan mendapat 100 SMS gratis, itu masih bisa kita rasakan langsung dan kita dapat mengevaluasi jika dalam perjalanannya ternyata manfaat yang diterima konsumen hanya fasilitas 100 SMS itu saja. Jika produk itu mengecewakan maka konsumen dengan mudah meninggalkam produk itu dan beralih ke produk lain.
Tentu terdapat perbedaan ketika konsumen harus memilih kepala daerah yang menawarkan program gratis, dengan asumsi, konsumen secara keseluruhan belum bisa merasakan tawaran program gratis itu. Oleh karenanya, seseorang yang telah menentukan pilihan politik akan merugi ketika ternyata program yang menawarkan pendidikan gratis hanya omdo (omong doang).
Ini tidak seperti ketika kita memilih kartu seluler: suatu waktu bisa kita tinggalkan atau kita buang saja dan memilih yang lain. Jika memilih kepala daerah, ketika program gratis itu tidak ada, maka kita harus memilih yang baru lagi, tapi dengan menunggu lima tahun. Rugi ‘kan kita?
Jangan terkecoh penawaran program gratis. Ibarat peringatan bagi konsumen: hati-hati sebelum membeli dan memilih. Lakukanlah survei, minimal bertanya kepada mereka yang selama ini telah merasakan manfaat menikmati program pendidikan gratis dan berobat gratis.
Jangan menanyakan kepada mereka yang belum pernah merasakan program gratis itu. Seandainya program itu baru mau akan menggratiskan, tentu hal ini kalah oleh tawaran dari calon yang telah melakukan program gratis. Memilih pemimpin jangan coba-coba. Pilihlah pemimpin baru tetapi sudah terbukti karyanya dan diakui secara nasional. O