Kamis, 04 Desember 2008

Jangan Biarkan Belenggu Penjara

Penjara

ADA yang pernah membayangkan rasanya terkurung dalam penjara pengap yang hanya cukup untuk dirimu sendiri? Sungguh sangat menyedihkan, rasa sesak itu akan terasa hingga ke dadamu, napasmu akan terasa tersengal seolah-olah tersumbat sesuatu.
Sama sekali tidak membayangkan, jika kehidupan ini harus dijalani dalam penjara. Tadinya saya mengagumkan beberapa tokoh perjuangan, mereka juga sering dipenjara. Keluar masuk penjara hal yang biasa bagi para pejuang. Tapi penjara masa reformasi ini beda dengan penjara masa pergerakan merebut kemerdekaan. Penjara dalam konteks perjuangan hanya satu slogan ‘merdeka atau mati’. Tapi kini kondisi sudah berubah. Kemerdekaan pun telah kita rebut, walaupun pintu penjara masih tetap dibuka. Ruang penjara disiapkan bukan untuk mengasingkan para pejuang kemerdekaan, melainkan untuk menjerat kaum koruptor yang makin merajalela menguras harta kekayaan negara.
Kerangkeng besi pun sekarang dipenuhi para pejabat negara, anggota DPR, mantan gubernur dan mantan bupati. Terlepas perbuatan sang koruptor disengaja atau tidak sengaja dilakukan. Kalau tidak demikian, apakah kondisi mereka karena larut dan ikut dalam sistem, sehingga mereka mengabaikan etika, nilai-nilai dan akibatnya tidak mampu menggebrak tembok atau pintu kebebasan.
Sebenarnya kehidupan pilihan. Kalau pun harus mengakhiri kehidupan di dalam penjara, itu merupakan konsekuensi logis sebuah pilihan. Karena ada juga yang merasakan dan mengganggap, masuk penjara, bukan berarti telah hilang suatu kebebasan. Karena kebebasan adalah hak semua orang dan telah dimiliki manusia sejak lahir. Oleh karena itu, walaupun sang pejuang, sang koruptor dalam penjara, pada dasarnya ia tetap memiliki kebebasan. Sang pejuang masih ada kebebasan untuk berjuang dalam mencapai tujuannya. Sedangkan sang koruptor, ada kebebasan untuk sadar dan bertobat bahwa perbuatannya telah merugikan banyak orang. Hanya saja perbedaannya, sang koruptor lebih sering tampil di layar TV atau pun koran dan selalu mengumbarkan senyum. Masih sempat mengenakan pakaian batik. Sebaliknya, para pejuang yang pernah merasakan dalam pengasingan di penjara. Walau pun tidak tampil di TV atau koran dan tidak terlihat lontaran senyuman, tapi mereka memiliki jiwa dan hati yang sama sekali tidak terpenjara. Hati yang mereka miliki suci dalam balutan keikhlasan untuk berjuang memperebutkan hak-hak kemerdekaan rakyat Indonesia, justru sebaliknya sang koruptor dalam penjara karena telah menginjak-nginjak hak rakyat. Uang rakyat yang semestinya digunakan untuk rakyat telah diselewengkan untuk kepentingan pribadi.
Mereka yang terpenjara akibat perbuatan korupsi, pada dasarnya tidak hanya dipenjara secara fisik. Karena hidup yang dia rasakan sebelum ia dipenjara adalah ibarat telah menjadi sebuah penjara. Karena kebanyakan melihat hidup sebagai sesuatu yang menyenangkan, sebagai kesempatan untuk bersenang-senang. Mereka rela hidup demi kenikmatan hidup. Kemudian mereka menjadi tergila-gila dan terpikat pada kehidupan. Karena mereka tergila-gila dan terperdaya oleh kehidupan inilah yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi penjara.
Semakin orang mempertahankan dan mengejar kesenangan melalui identitas-identitas sekunder maka kekecewaan dan derita serta perasaan kalah sudah menghadang di depannya. Jika hati, pikiran, dan nafsu kita masih sangat kuat terikat dengan beban-beban topeng dan bagasi duniawi, pasti sulit untuk lari dan terbang menuju pembebasan.
Misi kerohanian adakalanya gagal ketika seseorang lebih tertarik pada perintah dan tawaran hawa nafsu yang menyajikan kesenangan dan kenikmatan sesaat yang bersifat badani dan emosi sehingga bisikan, ajakan, peringatan, dan daya ruhani untuk melakukan bakti yang lebih mulia dan meraih kebahagiaan yang lebih tinggi menjadi terbengkalai. Hatinya mengeras, telinganya menjadi tuli, dan penglihatannya buta terhadap jalan kebenaran.
Pemimpin yang dianggap sukses bukannya yang kaya raya karena canggih melakukan korupsi, melainkan justru mereka yang siap hidup sederhana karena ingin memberikan seluruh potensi dan keunggulannya untuk saudara-saudara sesamanya.
Ketika orang sibuk mengumpulkan harta, bahkan dengan cara tidak halal, lalu hartanya hanya dipeluk dan dibanggakan, tetapi tidak ditaklukkan untuk sarana amal saleh, maka perasaan bahwa dirinya kaya adalah perasaan semu.
Keberhasilan menaklukkan itulah yang disebut orang kaya, bukannya mereka yang ditindas oleh harta untuk selalu menjaga dan bahkan membawanya dalam mimpi, seakan semua itu akan membuatnya abadi. O

Tidak ada komentar: