Jumat, 04 Januari 2008

HARGA DIRI

Harga diri

SEJAK kapan seseorang menyadari dan tahu tentang harga diri? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Jika seseorang itu telah menyadari memiliki harga diri, maka sejak itu pula ia akan tahu tentang siapa dirinya.
Seseorang akan tahu posisi dan fungsi hakikat dirinya. Seseorang akan sadar dan memahami hakikat penciptaan dirinya sebagai manusia.
Akan tetapi pemahaman seseorang terhadap harga diri jadi beragam. Sangat bergantung tingkat pemahaman dia terhadap tugas, posisi, dan fungsi kebaradaan dia.
Tentu saja hal ini berdasarkan kemampuan seseorang dalam merespons proses hubungan sosial dalam lingkungannya.
Harga diri yang dimaksud adalah nilai atau kehormatan yang menyangkut martabat. Martabat bagaikan bangunan konstruksi sosial yang dianggap memiliki tatanan. Martabat lantas menjadi bagian penting bagi keberadaan manusia—baik pribadi maupun kelompok. Demikian pentingnya asumsi martabat manusia sampai-sampai ia menjadi pertaruhan hidup-mati bagi orang per orang, kelompok, maupun suku-suku bangsa tertentu.
Ibarat sebuah ponten, sebenarnya nilai kehormatan seseorang dapat diukur secara operasional. Karena implementasi perilaku seseorang akan tergambarkan, apakah orang itu memiliki harga diri atau sebaliknya.
Persoalannya, ada yang sadar jika ia senyatanya tidak memiliki harga diri. Sebaliknya ada yang memang tidak menyadari kalau dirinya sudah tidak berharga lagi. Mungkin bagi yang menyadari jika tidak memiliki harga diri, akan berusaha untuk mengembalikan posisi harga diri. Tetapi, alangkah sedih melihat orang-orang yang tidak tahu jika harga dirinya pun telah terjual.
Saat harga diri telah terjual, tidak ada lagi ukuran dalam menata hubungan sosial kemasyarakatan. Harga diri yang ditampilkan semuanya akan semu. Hal seperti ini inilah yang menimbulkan kecamuk antarumat manusia.
Anehnya harga diri semu akan terus dikejar orang. Seperti orang mengejar bayang-bayang sendiri. Mereka tidak menyadari martabat yang senyatanya hanya bisa dikejar dengan perbuatan nyata, perilaku, budi baik, dan prestasi yang menimbulkan rasa hormat. Martabat tak mungkin diraih hanya dengan sekadar membangun wacana. Karena wacana itulah yang sesungguhnya semu dalam pengertian martabat sebenarnya.
Seumpama harga diri itu sebuah idealisme, kejujuran, integritas, dan moralitas, maka mereka yang telah menjual semuanya itu tentu tidak memiliki lagi harga diri. Para pejabat negara, pejabat pemerintah sampai pada pamong terbawah jika tidak memiliki harga diri lagi maka rakyat pun menderita. Bayangkan jika pengelola negara ini tidak mau lagi mendengar hati nurani, mendengar nurani rakyat, maka negara pun akan terjual. Bangsa kita tidak memiliki martabat lagi. Jangan bicara daya saing dari segala aspek. Semua aspek sepertinya tak ada yang patut dikedepankan.
Masih adakah yang bisa membangkitkan rasa kepercayaan diri dan meningkatkan harga diri? Kekayaan alam Indonesia yang kita bangga-banggakan sejak dulu kala, ternyata habis hanya dinikmati segelintir orang. Pemanfaatan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat hanya ada dalam konstitusi. Tidak diimplementasikan untuk kemakmuran rakyat.
Rakyat makmur hanya utopia. Kenyataannya rakyat masih miskin, rakyat masih antre minyak, rakyat masih kesulitan membeli sembako, rakyat belum bisa mendapatkan fasilitas pendidikan gratis.
Kesejahteraan masih dalam mimpi. Hutan-hutan gundul karena ditebang dan hasilnya dinikmati pemegang HPH, sedangkan rakyat hanya mendapat penderitaan. Banjir di mana-mana, tanah longsor setiap saat mengancam, berbagai bencana terus mengintai. Janganlah sampai rakyat kita mati karena kecemasan dan ketakutan yang terus menghantui.
Dengan beban begitu berat, masih untung anak-anak masih bisa sekolah. Walaupun kita tidak tahu kualitas sekolah itu.
Saat ini mungkin saja ada yang berpandangan, untung masih bisa makan. Bayangkan, harga beras makin melambung. Sistem pertanian kita pun masih semrawut. Menjelang musim tanam, pupuk menghilang dan harga jadi naik, benih padi dipalsukan.
Masih adakah peluang kita untuk memperbaiki kesalahan dan kesalahan selama ini? Harus ada tekad dan komitmen bahwa hal ini harus diperbaiki.
Langkah awal saat ini kiranya semua elemen menumbuhkan rasa kepercayaan pada diri. Rasa percaya untuk bangkit dan bangun bersama. Gelorakan semangat percaya diri dan membangkitkan roh-roh kehidupan rakyat. Pejabat sudah saatnya tampil menggelorakan semangat hidup, semangat untuk rakyat. Bukan saatnya lagi pejabat untuk dilayani dan bersemangat ‘akal-akalan’ untuk berkorupsi. Jika tatanan pemerintahan dan rakyat solid, maka negara akan kuat. Pada akhirnya kekuatan bangsa akan menjadikan kekuatan bersama yang membuat harga diri bangsa kita akan bermartabat. O

Tidak ada komentar: