Jumat, 04 Januari 2008

HILANG

Firdaus Komar

Hilang


SENJA menjelang malam, kembali matahari menghilang dari pandangan mata. Kemudian muncul kegelapan malam. Tidak lama kemudian gemerlap bintang bertebaran di langit. Siklus kehidupan yang kita rasakan, yang kita lihat, yang kita jalani demikian adanya. Selalu muncul siang dan malam. Malam hilang berganti siang dan siang hilang berganti malam.
Ibarat roda kendaraan yang sedang melaju kadang berada di bagian bawah dan kadang berada di atas. Semuanya berjalan dengan normal. Berbagi waktu antara siang dan malam tidak pernah membuat mereka ribut atau pun cemburu. Siang tidak merasa iri melihat malam yang indah dipenuhi kerlap kerlip bintang, sebaliknya malam tidak merasa iri dengan kondisi siang karena ada matahari menyinarinya.
Inilah keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan. Tatanan kehidupan selalu terlahir dengan seimbang. Hanya ulah manusia saja yang membuat alam lingkungan ini rusak dan tidak seimbang. Ketika iklim dan cuaca tidak lagi seimbang, bencana akan selalu datang. Berbagai nama badai menyerbu. Manusia hanya bisa pontang panting berpikir untuk menyelamatkan nyawa.
Pemanasan global telah menjadi masalah dunia. Lantas apakah ini tanda-tanda dunia akan kiamat. Apakah puncak dari persoalan umat manusia di muka bumi ini pada akhirnya akan bermuara pada hari akhir yang disebut dengan kiamat. Pertemuan delegasi dunia di Bali yang membahas isu pemanasan global, mungkinkah akan menyelamatkan planet bumi ini. Kita tunggu saja. Namun demikian, penyelamatan dunia bukan saja tanggung jawab satu pihak. Semua orang harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan tugas. Paling penting siapa pun dia dapat bertindak pada tataran lokal. Sekecil apa pun tindakannya akan sangat berarti dalam menata planet bumi ini.
Sebaliknya, ketika tindakan manusia untuk menyelamatkan dunia menghilang, manusia tidak lagi memiliki budaya dan peradaban maka yang muncul kemudian tindakan biadab yang menghancurkan masa depan.
Pada sisi lain, para penguasa cenderung dengan segala cara akan mempertahankan kekuasaannya. Jika sudah duduk di tampuk kekuasaan, selalu ingin terus duduk dalam kekuasaan. Pejabat negara sudah kehilangan kewibawaan. Proses penegakan hukum telah kehilangan arah. Sistem pendidikan yang diterapkan acak-acakan, tidak ada rujukan nilai-nilai yang jadi roh. Pemimpin negara telah kebingungan, bingung mau dibawa kemana perahu besar rakyat Indonesia ini. Kita khawatir para pemimpin negara telah kehilangan kemudi perahu. Akibatnya daya saing bangsa kita jadi rendah. Ketika nilai rupiah sangat bergantung dengan mata uang asing terutama dolar AS, bahkan kebijakan ekonomi yang merupakan jantung kekuatan perekonomian bangsa kita selalu dalam posisi tidak menguntungkan rakyat. Ketika harga minyak mentah melambung, posisi ekonomi bangsa pun terambung-ambung. Kebijakan mendadak dari pemerintah makin membuat rakyat susah bernapas.
Di tengah rakyat mengalami sesak napas, rakyat telah kehilangan kepercayaan. Rakyat bingung, tiba-tiba semen menghilang, beras menghilang, minyak goreng langka, pupuk sulit diperoleh, benih padi dipalsukan. Lahan pertanian tiba-tiba menghilang, telah digusur dan diambilalih untuk pembangunan pencakar langit.
Sangat sulit untuk membangkitkan dan mengembalikan kepercayaan rakyat. Saat rakyat kita memberikan amanah dan kepercayaan kepada wakilnya kepada pemimpinnya. Mereka tak pernah amanah. Selalu ingkar janji. Jangankan untuk menikmati hidup sejahtera, hak-hak dasar rakyat pun belum terpenuhi.
Sedangkan para koruptor yang dengan mudah menikmati duit rakyat telah menghilangkan bukti-bukti aset kekakayaan. Sang koruptor pun menghilang tak tahu kemana. Ditambah lagi para pemberantas korupsi juga telah kehilangan pasal-pasal tuntutan para koruptor.
Kini semuanya telah menghilang. Pulau-pulau kecil yang merupakan rangkaian satu kesatuan wilayah Indonesia banyak yang menghilang. Pulau itu menghilang karena pasirnya dijual diekspor illegal. Kekayaan laut menghilang karena dicuri dan dijual keluar, kayu-kayu ditebang dan menghilang dari tanah kelahiran kita. Budaya dan kesenian daerah asli Indonesia kehilangan makna karena diklaim milik bangsa lain. Mengapa kita tidak menghargai budaya asli bangsa kita. Selalu ingin mengatakan budaya luar lebih baik. Terjadilah mengimitasi budaya luar.
Masih untung harga diri kita belum menghilang. Namun demikian, patut kita mempertanyakan sebesar apakah harga diri yang kita miliki. Karena pertanyaannya pada rasa idealisme, kejujuran, integritas, dan komitmen yang kita miliki.
Karena itu mulai saat ini dengan modal harga diri, kita membangun dan menata diri, keluarga, lingkungan, masyarakat, sampai pada negara. Dengan rasa idealisme, kejujuran, integritas, dan komitmen kita bangun bangsa dan kita. Sebelum dunia dan Indonesia menghilang, masih ada waktu buat kita untuk menyelamatkannya. O

HARGA DIRI

Harga diri

SEJAK kapan seseorang menyadari dan tahu tentang harga diri? Jawabannya ada pada diri masing-masing. Jika seseorang itu telah menyadari memiliki harga diri, maka sejak itu pula ia akan tahu tentang siapa dirinya.
Seseorang akan tahu posisi dan fungsi hakikat dirinya. Seseorang akan sadar dan memahami hakikat penciptaan dirinya sebagai manusia.
Akan tetapi pemahaman seseorang terhadap harga diri jadi beragam. Sangat bergantung tingkat pemahaman dia terhadap tugas, posisi, dan fungsi kebaradaan dia.
Tentu saja hal ini berdasarkan kemampuan seseorang dalam merespons proses hubungan sosial dalam lingkungannya.
Harga diri yang dimaksud adalah nilai atau kehormatan yang menyangkut martabat. Martabat bagaikan bangunan konstruksi sosial yang dianggap memiliki tatanan. Martabat lantas menjadi bagian penting bagi keberadaan manusia—baik pribadi maupun kelompok. Demikian pentingnya asumsi martabat manusia sampai-sampai ia menjadi pertaruhan hidup-mati bagi orang per orang, kelompok, maupun suku-suku bangsa tertentu.
Ibarat sebuah ponten, sebenarnya nilai kehormatan seseorang dapat diukur secara operasional. Karena implementasi perilaku seseorang akan tergambarkan, apakah orang itu memiliki harga diri atau sebaliknya.
Persoalannya, ada yang sadar jika ia senyatanya tidak memiliki harga diri. Sebaliknya ada yang memang tidak menyadari kalau dirinya sudah tidak berharga lagi. Mungkin bagi yang menyadari jika tidak memiliki harga diri, akan berusaha untuk mengembalikan posisi harga diri. Tetapi, alangkah sedih melihat orang-orang yang tidak tahu jika harga dirinya pun telah terjual.
Saat harga diri telah terjual, tidak ada lagi ukuran dalam menata hubungan sosial kemasyarakatan. Harga diri yang ditampilkan semuanya akan semu. Hal seperti ini inilah yang menimbulkan kecamuk antarumat manusia.
Anehnya harga diri semu akan terus dikejar orang. Seperti orang mengejar bayang-bayang sendiri. Mereka tidak menyadari martabat yang senyatanya hanya bisa dikejar dengan perbuatan nyata, perilaku, budi baik, dan prestasi yang menimbulkan rasa hormat. Martabat tak mungkin diraih hanya dengan sekadar membangun wacana. Karena wacana itulah yang sesungguhnya semu dalam pengertian martabat sebenarnya.
Seumpama harga diri itu sebuah idealisme, kejujuran, integritas, dan moralitas, maka mereka yang telah menjual semuanya itu tentu tidak memiliki lagi harga diri. Para pejabat negara, pejabat pemerintah sampai pada pamong terbawah jika tidak memiliki harga diri lagi maka rakyat pun menderita. Bayangkan jika pengelola negara ini tidak mau lagi mendengar hati nurani, mendengar nurani rakyat, maka negara pun akan terjual. Bangsa kita tidak memiliki martabat lagi. Jangan bicara daya saing dari segala aspek. Semua aspek sepertinya tak ada yang patut dikedepankan.
Masih adakah yang bisa membangkitkan rasa kepercayaan diri dan meningkatkan harga diri? Kekayaan alam Indonesia yang kita bangga-banggakan sejak dulu kala, ternyata habis hanya dinikmati segelintir orang. Pemanfaatan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat hanya ada dalam konstitusi. Tidak diimplementasikan untuk kemakmuran rakyat.
Rakyat makmur hanya utopia. Kenyataannya rakyat masih miskin, rakyat masih antre minyak, rakyat masih kesulitan membeli sembako, rakyat belum bisa mendapatkan fasilitas pendidikan gratis.
Kesejahteraan masih dalam mimpi. Hutan-hutan gundul karena ditebang dan hasilnya dinikmati pemegang HPH, sedangkan rakyat hanya mendapat penderitaan. Banjir di mana-mana, tanah longsor setiap saat mengancam, berbagai bencana terus mengintai. Janganlah sampai rakyat kita mati karena kecemasan dan ketakutan yang terus menghantui.
Dengan beban begitu berat, masih untung anak-anak masih bisa sekolah. Walaupun kita tidak tahu kualitas sekolah itu.
Saat ini mungkin saja ada yang berpandangan, untung masih bisa makan. Bayangkan, harga beras makin melambung. Sistem pertanian kita pun masih semrawut. Menjelang musim tanam, pupuk menghilang dan harga jadi naik, benih padi dipalsukan.
Masih adakah peluang kita untuk memperbaiki kesalahan dan kesalahan selama ini? Harus ada tekad dan komitmen bahwa hal ini harus diperbaiki.
Langkah awal saat ini kiranya semua elemen menumbuhkan rasa kepercayaan pada diri. Rasa percaya untuk bangkit dan bangun bersama. Gelorakan semangat percaya diri dan membangkitkan roh-roh kehidupan rakyat. Pejabat sudah saatnya tampil menggelorakan semangat hidup, semangat untuk rakyat. Bukan saatnya lagi pejabat untuk dilayani dan bersemangat ‘akal-akalan’ untuk berkorupsi. Jika tatanan pemerintahan dan rakyat solid, maka negara akan kuat. Pada akhirnya kekuatan bangsa akan menjadikan kekuatan bersama yang membuat harga diri bangsa kita akan bermartabat. O

PESTA

Pesta

SEORANG karyawan mengeluh. Gaji per bulan yang ia terima tidak pernah mencukupi. Untuk biaya operasional sehari-hari terpaksa harus ngemplang ke teman atau tetangga. Biaya paling besar, ya itu ongkos transportasi untuk beli bensin. Apalagi ia mendengar pemerintah akan menaikkan harga BBM, hatinya bertambah kalut. “Wah kalau masih kerja seperti ini uang makin tidak cukup,” kata karyawan tadi.
Sebenarnya peluang ia untuk menerima uang sogokan dari kliennya cukup besar. Tetapi, ia selalu ingat terus soal idealisme. Rasanya tidak akanlah menerima uang ‘terima kasih’.
Karyawan yang masih bujang ini sebenarnya telah menjajaki untuk merencanakan berumah tangga. Ia menceritakan, kalau ia sebenarnya telah punya niat akan menikah. Apalagi dirinya telah mantap punya calon istri. Hanya saja tradisi yang seolah-olah menjadikan fardu a’in, jadi wajib untuk melaksanakan pesta perkawinan.
Ia selalu membayangkan pesta perkawinan tidak cukup dengan uang Rp10 juta. Apalagi ia membayangkan ada orang yang menggelar acara pesta perkawinan yang menghabiskan uang ratusan juta sampai miliaran rupiah. Wah…wah…, dari mana uangnya?
Karyawan ini pun mempertanyakan mengapa harus ada pesta. Mengapa rasa syukur harus menjalankan tradisi pesta. Ia pun menjawab atas pertanyaannya. Sepertinya tidak bisa dipungkiri, kondisi masyarakat dewasa ini ingin menampilkan secara visual-kontemporer bahwa pernikahan adalah sebuah fenomena luar biasa sehingga sebagai mediasi kepatuhan terhadap etika sosial mereka merepresentasikannya dengan mengadakan resepsi pernikahan yang dianggap pula sebagai tanda syukur.
Tapi kadang-kadang kita salah menempatkan wujud rasa syukur dengan menggelar pesta. Bayangkan, misalnya seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Lalu menggelar acara syukuran dalam wujud pesta makan-makan ditambah lagi dengan acara karaoke atau mengundang pemain musik organ tunggal.
Dalam sebuah pesta selalu identik dengan keramaian dan senang-senang, pamer kemudian mengeluarkan biaya besar. Kalau kita merefleksikan sebuah acara pesta perkawinan atau pesta lainnya boleh jadi ada nilai silaturahim. Tapi di balik kekuatan silaturahmi, rasanya cukup sulit jika dikatakan hal itu merupakan wujud rasa syukur. Lihat saja jika anak pejabat atau kalangan borju yang mau menggelar pesta perkawinan. Dari desain dan cetak undangan yang tentu saja seharga berkilogram beras, sewa gedung atau hotel mewah, belum lagi berbagai macam tradisi yang harus dijalankan. Boleh jadi sepanjang hal itu tidak memberatkan, mungkin masih bisa diterima. Tetapi ketika hal itu telah menjadi kewajiban yang mesti dijalani, lantas hal ini akan menjadi beban. Bayangkan, orang yang mau menikah, tetapi ditambah beban harus memikirkan biaya besar yang bakal dikeluarkan.
Pesta dalam batas-batas wajar masih bisa dijalankan atau kita terima, jangan sampai sebuah pesta harus menganiaya pihak lain dan mengabaikan hak-hak orang lain. Misalnya, seorang borju berpesta dengan uang miliaran rupiah. Walaupun itu dilakukan dengan menggunakan biaya sendiri, tetapi apakah kewajiban ia kepada orang tidak mampu, telah dijalankan. Apalagi jika sebuah pesta itu menggunakan uang rakyat melalui dana APBD. Sungguh tidak pas, jika memanfaatkan APBD untuk berpesta hanya untuk mencapai prestise. Misalnya pesta launching Visit Musi 2008 yang harus menghabiskan dana miliaran rupiah. Rasanya sayang, acara besar menghabiskan uang tapi sedikit benefit bagi rakyat.
Kini pesta makin laris, makin disukai orang-orang. Orang pada suka pesta narkoba, pesta seks, atau pun pesta shabu-shabu. Orang suka akan hal yang mengenakkan bagi dirinya. Orang suka terhadap pesta yang dilarang. Setiap hari ada penangkapan dan penggeledahan pesta narkoba, tapi tiap hari pula peredaran narkoba untuk dijadikan pesta.
Ya masih untung, seorang karyawan tadi mengeluh hanya karena gaji kecil. Tidak mengeluh karena tidak ada biaya untuk pesta narkoba atau pun pesta seks. Ia pun masih bersyukur, ternyata masih diberi kesempatan menikmati dinamika kehidupan di dunia ini.
Rasa syukur yang ia ungkapkan tidak diimplementasikan dalam acara pesta. Sebegitukah rasa syukur kita? Aku sendiri sering merasa malu, karena teringat bahwa kurang bersyukur dengan apa yang ada, dan sering menyesali kekurangan yang ada. Tidak menyadari bahwa telah begitu banyak yang telah kita peroleh. Mensyukuri apa yang dimiliki saja belum, tapi masih saja mengharapkan lebih.
Seseorang yang bersyukur berarti dia menyadari hakikat dirinya, dan menyadari sepenuhnya akan kehadiran Sang Khalik. Sebagai wujud dari syukur itu, dirinya akan berusaha sepenuh hatinya untuk menjalankan semua perintah-Nya. Dalam beribadah, dan dalam bermuamalah dengan sesama. Timbullah ketaatan dalam dirinya. O