Rabu, 05 Maret 2008

PROFESIKU

Profesiku

SAYA yakin pasti ingat dengan kata-kata kuli tinta. Tentu saja maksudnya ingin menggambarkan sebuah profesi wartawan. Kata kuli tinta sangat akrab di telinga kita. Namun demikian kuli tinta hanya sebuah istilah untuk mengatakan ia adalah seorang wartawan. Kata kuli tinta sedikit kontradiktif, satu sisi kita ingin mengatakan wartawan sebuah profesi yang mulia tapi sisi lain ia disebut dengan kuli tinta. Apakah demikian adanya tuntutan profesi wartawan. Ya tahu sendiri kan kuli adalah pekerja kasar alias buruh. Memang patut kita mempertanyakan di balik profesi mulia sebagai wartawan yang menyampaikan kabar kebenaran, apakah kita ini tidak lebih dari seorang buruh di bawah belenggu para pemilik modal. Sering terlontar dari teman-teman wartawan sebagai buruh pers, buruh media. Kita menyadari perkembangan dunia kewartawanan seiring dengan perkembangan pers secara keseluruhan yang juga diikuti perkembangan teknologi yang menyertainya. Profesi wartawan, sungguh tugas yang menarik dan menantang. Sungguh banyak dinamika pengalaman liputan bagi wartawan yang sangat berat bagi ia untuk meninggalkan profesi wartawan.
Mungkin juga sudah tidak tepat jika dikatakan kuli tinta, karena saat ini wartawan bertugas telah mengandalkan kemajuan teknologi. Cukup dengan satu ponsel, wartawan telah bisa merekam, mengetik berita, sampai pada mengirim berita ke kantor redaksi. Cukup dengan satu ponsel yang telah dilengkapi fiturnya bisa mendukung pekerjaan wartawan.
Kembali lagi kita mengingatkan berkaitan dengan peringatan hari pers nasional pada 9 Februari 2008, secanggih apa pun perkembangan teknologi media dan kemajuan masyarakat pembaca. Bahwa tugas pokok wartawan tetap pada koridor idealisme dan integritas seorang insan pers.
Secara prinsipiil-filosofis, yang dimaksud dengan wartawan (kuli tinta, kuli disket, jurnalis, dsb.) merupakan profesi seseorang yang menuntut keandalan untuk bersikap, berinstingtif dan berdaya intelektual prima dalam menghasilkan berita, informasi (aktual dan obyektif).
Prosedur kerja sosok wartawan, miriplah pekerjaan sang detektif. Mereka dituntut secara profesional untuk selalu mengawal dinamika perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Mereka jua yang menyaksikan sendiri secara langsung setiap peristiwa penting yang sarat bernilai berita untuk ditulis sendiri dan atau dikerjakan oleh orang lain di meja redaksi.
Selain mengandalkan kevalidan data -yang meliputi formula paten berita 5W+H (What, Who, Where, When, Why+How)- kadar “tinggi-rendahnya” nilai berita tergantung faktor antara lain: aktualitas, kedekatan (berhubungan dengan jarak), penting (terkait sosok orang yang diberitakan, ingat dengan names make news), keluarbiasaan, akibat, insiden musibah, konflik, human interest, crime dan sebagainya.
Secara konkrit, sampai saat ini masih ada tiga media massa yang mendominasi persebaran informasi publik. Tiga media massa itu meliputi media massa cetak dan elektronik. Lebih spesifik lagi, yaitu media massa berupa radio, surat kabar (koran), teve serta internet. Sejatinya, tak ada perbedaan mencolok antara wartawan televisi, kuli tinta koran dan jurnalis radio. Sebab, antara ketiganya (baca; jurnalis teve, radio, koran) memiliki titik singgung (persamaan) yang hampir identik. Yakni sama-sama melakukan kegiatan jurnalistik bernama reportase (kegiatan peliputan berita), maka orangnya disebut reporter, dari medan lapangan.
Yang membedakan ketiganya, hanyalah hasil akhir laporan reportasenya—inipun lebih banyak dipengaruhi oleh produk akhirnya tadi berupa media audio saja (radio), media visual (statis) saja (koran) dan media audio plus visual (teve). Tentu pula, instrumen pembantu yang digunakan untuk melakukan kegiatan reportase bagi tiga jenis makhluk wartawan koran, teve dan radio juga berbeda. Wartawan teve selalu menenteng handicam di tangan, sedangkan “senjata” yang dimiliki reporter radio berupa tape recorder serta jurnalis koran identik dengan kamera digital ataupun analog.
Tapi semua itu bukanlah instrumen mutlak, karena di antara ketiganya bisa saling melengkapi (komplementer). Bila kita membaca surat kabar (koran), kita mempunyai kesempatan untuk mengulangi beberapa kali, sebosan kita. Atau bahkan menangguhkan membacanya hingga sampai beberapa jam kemudian. Tidak demikian halnya dengan berita yang disiarkan radio. Bahasa radio hanya dibacakan sekali saja. Tak diulang-ulangi, layaknya membaca koran atau menonton VCD Player. Kalaupun diulang, pengulangan itu tentulah pada penyampaian berita pada waktu berikutnya, saat pendengar semula sudah meninggalkan tempatnya. Kembali kita mengingatkan kepada insan pers, kembali kepada tugas utama seorang wartawan jangan pernah untuk menyerah dalam mengungkapkan kebenaran sejati. Untuk kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa kita. O

Tidak ada komentar: