Senin, 15 Juni 2009

rencana penelitian

PROPOSAL
A. PENDAHULUAN
Teologi adalah ilmu yang membahaskan ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami selok-belok agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberikan seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan kepada landasan yang kukuh dan tidak diombang-ambingkan oleh peredaran zaman (Nasution, 1987:7).
Perlu disedari dan dipahami bahwa teologi Islam itu bukan dalam maksud dan pengertian agama sebagai suatu ajaran, tetapi hanya merupakan pemikiran reflektif seorang beriman mengenai imannya dalam rangka memperkukuh iman yang telah diyakininya (M. Masyhur Amin, 1989:10). Oleh itu, rumusan teologi Islam sebagai rumusan akal fikiran manusia akan berbeda sesuai dengan situasi dan keperluan generasi pada kurun sejarah tertentu. Rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran dipengaruhi oleh problem teologis pada masanya (Azyumardi Azra, 1996:3). Sekalipun konsep teologis klasik itu masih terikat oleh masalah-masalah ketuhanan yang selalu berorientasi metafisika, namun teologi ini telah mampu membawa umat Islam pada masa itu ke arah kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Pada era globalisasi dewasa ini, manusia hidup dalam planet yang interkomunikatif, di mana umat Islam dihadapkan pada serangkaian tentangan yang belum pernah dialami oleh umat Islam di masa silam. Bila dibandingkan dengan umat beragama lain, posisi dan kemampuan sains dan teknologi umat Islam tidaklah menggembirakan. Menurut Max Weber, seperti yang dikutip oleh Alwi Shihab, pola berfikir dan tindakan, etos serta world view suatu kelompok masyarakat sangat dipengaruhi oleh ajaran agama kelompok tersebut (Alwi Shihab, 1999:245). Dari hipotesis Weber ini dapat dikatakan bahwa ajaran agama merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada pola fikir dan tingkah laku penganutnya dan selanjutnya merupakan bahagian daripada budaya yang mengantarkannya pada kemajuan atau kemerosotan.
Penelitian tentang keterkaitan antara moralitas agama dengan semangat kapitalisme industri awal telah banyak dilakukan oleh ilmuwan baik dalam negeri (Indonesia) maupun luar negeri. Seorang di antara pelopor studi ini adalah Max Weber, seorang ilmuwan sosial yang telah membuktikan keterkaitan antara etika agama dengan semangat kapitalisme awal.
Penelitian yang dilakukan oleh Max Weber ini kemudian diikuti oleh penelitian-penelitian yang bersifat “menguji” tesisnya maupun memperluas wilayah bahasannya. Sebagai contoh dapat disebutkan antara lain iaitu Erns Troelsch, Bryan S. Turner, Robert N. Bellah, Lance Castles, Mohammad Sobary, dan Irwan Abdullah. Sementara penelitian ini bersifat mengelaborasi tesis Weber dari magnum opus-nya yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism pada penenun songket di Palembang.
Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia, aktiviti perekonomian bangsa hampir lumpuh, terutama aktiviti ekonomi yang bergerak dalam bidang real estate, property maupun pabrik-pabrik elektronik. Namun, aktiviti ekonomi rakyat yang bergerak di bawah level modal besar, tepatnya para pengusaha bermodal menengah ke bawah ternyata memperlihatkan gejala yang sebaliknya. Aktiviti pengusaha ini berjalan sebagaimana adanya dan tetap survive dengan modal seadanya tanpa harus memaksa pemerintah untuk memberikan suntikan dana segar demi kelancaran usahanya. Uniknya, pengusaha kelas menengah ke bawah ini, terutama penenun songket, kebanyakan pengusaha Muslim.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia hampir tidak berpengaruh terhadap aktiviti perekonomian pada pengusaha Muslim yang bergerak dalam produksi dan perdagangan songket di Palembang. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan apakah produktiviti pengusaha Muslim tersebut ada kaitannya dengan ajaran agama yang mereka anut? Pertanyaan ini perlu dikaji lebih lanjut karena Max Weber pernah mengatakan dengan nada sinis bahwa agama-agama seperti Islam, Katholik, dan Budha adalah agama-agama yang tidak mendukung proses produksi. Agama-agama tersebut merupakan agama yang menyebarkan paham asketis dan hidup membiara serta agama prajurit, bukan agama kapital.
Apa yang dikemukakan Weber ini bila diterapkan pada Islam akan menuai berbagai kritikan, karena secara doktrinal, Islam sebenarnya jauh berbeda dengan apa yang dituduhkan Weber. Hal ini pernah dilakukan oleh Turner yang mengoreksi dan mengritik Weber. Turner berpendapat bahwa Islam bukanlah agama prajurit atau agama padang pasir yang berwatak keras dan suka perang, tatapi Islam menyimpan ajaran-ajaran tentang “hidup mewah” dan beretos kerja yang tinggi. Walaupun Weber telah memberikan dasar-dasar yang amat baik untuk melihat kelompok agama yang progresif dalam masyarakat, namun Weber hanya melihat pada masyarakat yang bertradisi Protestant, bukan Katholik. Turner menyesalkan pernyataan Weber yang mengatakan bahwa ajaran Islam kurang bahkan tidak bisa menjadikan umatnya maju. Patut diragukan juga pernyataan Weber tentang para penganut Islam yang berprofesi sebagai pedagang dan pegawai negeri dianggap menyalahi nilai-nilai gurun dan prajurit (Turner, 1992:179).
Pendapat Weber yang mengatakan bahwa kemungkinan mengejar keuntungan hanya ada pada masyarakat Protestant, bukan pada masyarakat lainnya, bisa didebat ulang. Penelitian lain telah membuktikan adanya semangat kapitalisme, misalnya di Jepang dan Korea Selatan yang berfaham Zen Budhism, sedangkan di Taiwan dan China berfaham Konfusianisme (John Clammer, 1991:18).
Ajaran Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras, baik dalam menuntut ilmu maupun beramal saleh. Bekerja dengan menjalankan usaha atau berdagang adalah anjuran agama dan dinilai sebagai ibadah. Namun yang patut disayangkan, Islam yang diturunkan dengan keluasan doktrinnya membuat umat Islam merasa “kebal” untuk menghadapi segala tantangan hidup karena semuanya sudah diatur dan ditentukan oleh Allah. Mental puas diri dari umat Islam yang kemudian menimbulkan faham fatalistik membuat umat Islam tidak maksimal dalam berikhtiar. Walaupun pedagang dan pengusaha melakukan transaksi bisnis, itu bukan karena dorongan agama sepenuhnya tetapi kerana sentimen rasial, suku, dan agama.
Negara Indonesia, yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, termasuk negara sedang berkembang yang etos kerjanya berbeda dengan negara yang sudah maju. Negara yang sedang berkembang diasumsikan memiliki etos kerja yang kurang mendukung bagi peningkatan produktiviti. Hal ini disebabkan antaranya masyarakat sedang berkembang menganut faham yang berimplikasikan fatalis.
Sejalan dengan itu, diasumsikan pula bahwa faham yang berkembang dan dianut oleh masyarakat sedang berkembang, termasuk masyarakat Palembang (Indonesia), adalah paham teologi tradisional yang cenderung fatalis dan tidak mendukung bagi peningkatan produktiviti. Oleh kerana itu, bila etos kerja dan produktiviti terasa tidak meningkat, maka wajar ada tuduhan yang mengatakan bahwa teologi tradisional yang berfaham Jabriyah dengan faham qada’ dan qadar-nyalah penyebabnya.


B. HIPOTESIS KAJIAN

Berdasarkan asumsi dan kajian pustaka terdahulu, maka dapat dikatakan bahwa kebanyakan penenun songket cenderung berfaham Jabariyah yang dapat disebut berfaham teologi tradisional dan beretos kerja Negara sedang berkembang yang cenderung fatalis. Selanjutnya dirumuskan secara terperinci bahwa:
1. Kecenderungan faham teologi mereka berkorelasi dengan lingkungan sosial budaya mereka.
2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara faham teologi yang dianut dengan etos kerja mereka.

C. OBJEKTIF DAN KEPENTINGAN KAJIAN

Kajian ini mempunyai beberapa kepentingan dan tujuan, antaranya:
1. Untuk mengelaborasi lebih lanjut tentang tesis Weber yang berjudul The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism terhadap penenun songket di Palembang.
2. Untuk menelaah kemungkinan adanya pengaruh ideologi teologis terhadap etos kerja penenun songket di Palembang.
3. Untuk menambah literatur dalam bidang aqidah dan pemikiran Islam dalam versi bahasa Malaysia.


D. SKOP KAJIAN
Untuk memudahkn lagi pengkajian mengenai Pengaruh Ideologi Teologis terhadap Etos Kerja Penenun Songket Palembang, penulis akan cuba membataskan skop kajian kepada beberapa perkara yang menjadi bahan penulisan.Oleh itu, kajian ini hanya akan tertumpu kepada pengaruh ideology teologis terhadap etos kerja penenun songket di kota Palembang, iaitu di kecamatan Ilir Barat II dan kecamatan Seberang Ulu II, dan perkara-perkara yang mempunyai kaitan dengannya khususnya tentang: gambaran umum wilayah penyelidikan, konsep teologi dalam Islam, dinamika penenun songket dan analisis pengaruh ideologi teologis terhadap etos kerja penenun songket Palembang.

E. MASALAH KAJIAN

Di dalam penulisan kajian ini, masalah utama yang penulis cuba kaji ialah apakah produktiviti pengusaha songket di Palembang ada kaitannya dengan ajaran Islam yang dianutinya? Agar pembahasan ini terarah dengan benar, maka masalah utama dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya sebagai berikut:

1. Mengapa penenun songket di Palembang tetap eksis pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia?
2. Bagaimana pengaruh ideologi teologis terhadap etos kerja penenun songket di Palembang?

F. METODOLOGI PENYELIDIKAN

Dalam melakukan sesuatu kajian ilmiah ataupun penyelidikan, metode merupakan perkara yang amat penting keran ia merupakan cara kerja untuk memahami objek yang sedang diteliti. Dengan kata lain, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematik. Sesuatu penyelidikan ilmiah akan dikira bermutu sekiranya metode yang digunakan tepat dan sesuai dengan objek dan tujuannya.
Di dalam pengkajian tajuk ini, penyelidikan akan menggunakan metode-metode berikut:
1. Metode pengumpulan data
2. Metode analisis data.

1. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ialah usaha-usaha yang dilakukan dengan cara pengumpulan data dan penafsiran terhadap data yang terkumpul . Metode pengumpulan data bagi menyempurnakan kajian ini dibuat melalui dua cara iaitu penyelidikan lapangan (field research) dan penyelidikan perpustakaan. Penyelidikan perpustakaan ialah penyelidikan yang dilakukan di perpustakaan bagi mendapatkan maklumat sama ada dalam bentuk kamus, encyclopedia, buku-buku rujukan, disertasi, majalah, jurnal, dan seumpamanya yang berkaitan dengan kajian ini. Sementara penyelidikan lapangan ialah penyelidikan yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang dikaji. Pelaksanaannya meliputi observasi, temubual (wawancara), soal selidik, dan dokumentasi.
Observasi dilakukan untuk mengadakan pengamatan secara langsung terhadap fakta-fakta yang ada, iaitu tentang aktiviti penenun songket di Palembang. Dalam observasi, penyelidik mencuba untuk melihat secara langsung keadaan penenun songket, cara hidup, matapencarian, dan keluarga. Di samping melihat secara langsung, penulis mencuba untuk mengadakan temubual secara tidak formal dengan penenun. Ini dilakukan untuk mengetahui keadaan mereka dan menginginkan terjadinya komunikasi yang akrab agar informasi yang diberikan lebih terbuka.
Adapun soal selidik yang disebar merupakan gabungan dari soal selidik tertutup dan terbuka. Soal selidik tertutup merupakan daftar pertanyaan yang telah disusun untuk mendapatkan alternatif jawapan dari responden, di mana jawapan telah disediakan oleh penyelidik. Sedangkan soal selidik terbuka adalah kolom daftar jawapan yang telah disediakan, di mana responden mengisinya apabila dalam alternatif jawapan soal selidik yang disediakan tidak sesuai atau kurang lengkap.
Alasan penyelidik menggunakan soal selidik ini kerana: Pertama, soal selidik merupakan alat praktikal untuk digunakan dalam pengumpulan data yang dalam waktu relatif singkat data yang diperlukan segera terkumpul. Kedua, dengan soal selidik ini responden akan lebih bebas dalam memberikan jawapan.Ketiga, setiap responden akan menghadapi pertanyaan yang sama isi maupun tata kalimatnya sehingga akan diperoleh jawapan yang seragam. Hal inilah yang akan memudahkan penyelidik dalam pengolahan data.
Selain soal selidik, penyelidik juga melakukan temubual dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Temubual yang akan penyelidik lakukan adalah dengan mendatangi langsung para informan (key informan). Sebagai sumber temubual iaitu penenun songket, pengurus organisasi, pemuka agama, dan pemerintah setempat. Dalam temubual, penyelidik mencari informasi tentang aktiviti penenun songket, pandangan atau pendapat pemuka agama atau pemuka masyarakat dan pengurus organisasi yang ada hubung kait dengan kajian ini.
Di samping itu, penyelidik mengumpulkan data melalui metode dokumentasi. Melalui metode ini, penyelidik cuba mengumpulkan data dengan melakukan kajian terhadap dokumen-dokumen yang ada hubung kait dengan kajian ini. Antaranya ialah gambar, berita-berita surat kabar, dan dokumen pemerintah. Dokumentasi bertujuan untuk memberi definisi terhadap fakta-fakta yang diperlukan.

2. Metode Analisis Data

Setelah segala data yang diperlukan terkumpul melalui metode-metode yang dinyatakan, penyelidik mula mengolah data dan menganalisis data yang diperolehi untuk menyiapkan kajian ini. Oleh kerana itu, penulis menggunakan metode kualitatif dan metode kuantitatif.
Analisis kualitatif dengan metode deskriptif analitis digunakan untuk menggambarkan kecenderungan-kecenderungan aliran teologi, dimensi etos kerja, dan aspek sosial budaya yang melingkupi kehidupan penenun songket dan masyarakat
sekitarnya. Sementara analisis kuantitatif diolah dengan langkah-langkah: Pertama, menyeleksi data, data yang kurang lengkap dilengkapi dengan pengulangan atau substitusi. Kedua, menyusun buku koding untuk memasukkan data ke komputer. Perhitungan dan analisis data secara kuantitatif dilakukan dengan tabel-tabel frekuensi, persentase dan tabulasi silang. Hubungan-hubungan variable dianalisis dengan menggunakan analisis Chi-Square, produck moment, dan atau regresi ganda dengan tingkat pengujian signifikansi pada taraf 0,05.


G. KAJIAN-KAJIAN LEPAS

Pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan teologi pada umumnya termasuk dalam disiplin ilmu keagamaan yang bersifat teoritis-normatif. Namun demikian, bila dikaitkan dengan manusia yang menganut keyakinan dan faham teologis tertentu dan etos kerjanya,maka otomatis masalah teologi yang tadinya murni hanya bersifat teologis-normatif telah melibatkan masalah psikologis-behavioris.
Penyelidikan terdahulu yang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan penyelidikan disertasi ini telah banyak dilakukan orang. Dari telaah pustaka yang telah dilakukan ditemukan beberapa karya yang telah memberikan kontribusi terhadap penyelidikan ini.
Penyelidikan yang khusus tentang kerajinan songket telah dikaji oleh beberapa penyelidik antara lain Suwati Kartiwi. Tulisan Kartiwi ini berjudul Seni Tenun dan Ragam Hias Indonesia (1975). Ia memetakan seni tenun beserta keragaman hiasan dalam tenun Indonesia sebagai cermin peranan wanita dalam adat. Corak motif yang diterapkan pada kain songket tidak lepas kaitan corak dan arti seperti diterapkan pada desain atau ragam hias yang terdapat pada ukiran rumah adat. Persamaan motif dan simbol antara bangunan Limas adat Palembang dengan motif kain songket Palembang. Penyelidikan kartiwi juga menemukan ada kesamaan motif antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Misalnya, persamaan motif kain Minangkabau cukie kaluak ampek puluh, menunjukkan persamaannya dengan motif yang terdapat pada ulos Batak.
Sementara Clifford Geertz, telah mecoba membahas karakteristik kehidupan masyarakat secara mendalam, khususnya masyarakat Jawa. Meskipun menimbulkan banyak reaksi, penyelidikan Geertz ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang kultur dalam masyarakat Jawa. Walaupun penyelidikan Geertz ini sering disalahpahami sebagai penyelidikan khusus tentang kehidupan keagamaan di Jawa, namun penyelidikan ini telah memberikan dasar-dasar bagi penyelidik antropologi budaya yang kemudian berkembang sampai kini. Penyelidikan Geertz ini dibukukan dengan judul Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1986).
Jalaluddin Rahman melakukan penyelidikan mengenai pandangan al-Qur’an tentang perbuatan manusia melalui kajian tafsir tematik. Dari penyelidikannya dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an menghendaki manusia produktif dan kreatif. Manusia diberi kebebasan untuk memilih dan berbuat namun tetap patuh pada sunnatullah. Konsep manusia yang produktif-kreatif berbeda jauh dengan konsep kasb Asy’ariyah. Al-Ghazali sependapat dengan al-Asy’ariy yang mengatakan bhwa daya manusia lemah dan daya Tuhan lebih dominant. Kedu tokoh tersebut mempunyai teori tentang tanggung jawab dan perbuatan manusia yg membuat manusia tidak produktif dan kreatif. Penyelidikan Rahman ini dapt dibaca dalam bukunya yang berjudul Konsep Perbuatan Manusia menurut Al-Qur’an (1992).
Ramli Nur dalam penyelidikannya menjelaskan bahwa pemikiran teologis dosen-dosen pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi umum di Medan mengenai konsep iman, sifat-sifat Tuhan, akal dan wahyu, dan perbuatan manusia, adalah pengikut faham al-Asy’ariy yang bercorak teologi tradisional. Sementara aspek teologi mengenai sunnatullah (hukum alam) dan keadilan Tuhan, pola fakir mereka teologi rasional. Dengan demikian, pemikiran teologis dosen-dosen pendidikan agama Islam pada Perguruan Tinggi umum di Kotamadya Medan secara umum tidak mutlak terikat pada salah satu aliran saja. Mereka bebas memilih salah satu aliran yang sesuai. Penyelidikan ini bertajukPemikiran Teologis Dosen-dosen Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum di Medan (1993).
Sedangkan penyelidikan secara khusus menyelidiki masyarakat Muhammadiyah yang menggeluti perdagangan dilakukan oleh Irwan Abdullah. Ia dengan tegas menjelaskan bahwa masyarakat di daerah Jatinom, Klaten Jawa Tengah yang memiliki tradisi keagamaan modernis-reformis bahkan progresif sebagai bagian penting dari pengamalan faham keagamaan yang dianutnya. Mereka menjalakan aktiviti perdagangan dan perekonomian didorong oleh semangat keagamaan yang reformatif Muhammmadiyah. Penyelidikan Irwan Abdullah ini bertajuk The Muslim Businessmen: Religious reform and Economic Modernization in a Central Javanese Town (1994).
Penyelidikan lain dilakukan oleh Heri Junaidi. Heri Junaidi membahas problematika siklus distribusi kain songket. Fokus penyelidikannya adalah persoaln manajemen keluarga dan sistem kerjasama melalui akte di bawah tangan. Dari penyelidikannya, Heri menyimpulkan bahwa kegiatan pembuatan kain songket yang dilakukan mereka di Palembang berdasarkan pengembangan usaha yang telah mereka miliki sebelumnya. Artinya, para penenun songket Palembang berkreasi bukan berdasarkan pelestarian tradisi tetapi hanya sebagi usaha sampingan. Ia mencontohkan, adanya usaha tenun songket di dalam kegiatan usaha ‘X’ telah didahului dengan usaha menjahit, membordir, ataupun usaha kain jumputan. Kemudian, baru ada keinginan membuat tenun songket, itupun karena ada dorongan dari pemerintah daerah. Tulisan ini dapat dibaca dalam skripsi Heri Junaidi yang berjudul Kerja sama Usaha Kerajinan Songket di Palembang (1995).
Penyelidikan yang lebih khusus tentang masyarakat Indonesia yang bergerak dalam sektor perdagangan dilakukan oleh Mohammad Sobary. Penyelidikan Sobary ini difokuskan pada masyarakat Betawi yang terpinggirkan oleh sistem pembangunan. Pada penyelidikan ini, Sobary mengemukakan kategori masyarakat iaitu masyarakat asli (pedesaan) dan masyarakt pendatang (urban). Masyarakat asli merupakan suatu gambaran masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem pembangunan kekuasaan sehingga mereka harus merelakan diri berkutat pada sektor marjinal (informal) dan tetap bertahan pada tradisi Islam tradisional sebagai dasar-dasar kehidupan. Sementara masyarakat urb (pendatang) adalah corak masyarakat yang berkuasa dalam wilayah perdagangan dan tidak marjinal karena mereka rata-rata bermodal (kapital) dan berfahm modernis-progresif. Tulisan Sobary ini dapat dibaca pada bukunya yang berjudul Kesalehan dan Tingkah Laku Ekoniomi (1995).
Kemudian, antropolog Robert W. Heffner dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Mochtar Zoerni dengan judul ICMI dan Perjuangan Menuju Kelas Menengah Indonesia (1995), memokuskan kajiannya pada kemunculan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang didirikan di akhir tahun 1990. Heffner mencoba menggali apakah cendekiawan di Indonesia benar-benar berpengaruh terhadap birokrasi, yang mengindikasikan timbulnya kelas menengah Muslim di Indonesia atau benar-benar sedang tumbuh dan berkembang gerakan “sektarianisme” berkedok intelektual. Hal ini kemudian dibandingkan dengan gerakan modernis, marxis, dan post modernis seperti dalam ilmu sosial Barat yang mengalami adanya sekulerisasi.
Suwita Kartiwi dalam bukunya yang berjudul Kain Songket Indonesia (1996) menjelaskan tentang definisi songket dan latar belakang perkembangan dan persebaran songket di Indonesia. Yang menjadi bahasannya dalam buku ini adalah kerangka dari pembudayaan kapas, keunikan desain songket di Indonesia, prinsip-prinsip utama dalam proses desain songket , dan arti simbol-simbol dalam motif kain songket. Pada penyelidikannya ini dapat dilihat adanya hubungan erat antara motif kain songket dengan rumah adat suatu daerah, beberapa penamaan yang berbeda dalam menyebut kain songket, serta implikasi kain songket terhadap pemakainya.
Sementara Aceng Kosasih dalam penyelidikannya yang bertajuk Corak Pemikiran Teologis Dosen-dosen Pendidikan Agama Islam di IKIP Bandung (1996), menjelaskan bahwa corak pemikiran teologis dosen-dosen Pendidikan Agama Islam di IKIP Bandung pada umumnya lebih cenderung bersifat liberal/rasional. Mereka pada umumnya menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Menurut mereka, akal mempunyai peran dan kekuatan untuk mengetahui adanya Tuhan, baik dan buruk, maupun untuk mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan ataupun kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi perbuatan jahat. Namun, mereka juga menyadari bahwa kebenaran yang diperoleh akal sangat relatif hasilnya. Pengetahuan yang diperoleh akal pada umumnya hanya menyangkut hal-hal yang global saja. Untuk itu diperlukan wahyu yang berperan sebagai petunjuk bagi akal. Jadi, mereka berpendapat bahwa akal dan wahyu sama-sama memiliki peran yang penting.
Selanjutnya Ahsin Muhammad dalam tesisnya yang bertajuk Keberadaan Faham Mu’tazilah dan Asy’ariyah di Kalangan Mahasiswa Baru dan Lama Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1997), menyelidiki tentang keberadaan faham Mu’tazilah dan Asy’ariyah di kalangan mahasiswa baru dan lama program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Dalam penyelidikannya, Ahsin Muhammad menemukan bahwa kebanyakan mahasiswa di program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, baik yang tergolong mahasiswa baru maupun lama menganut aliran Mu’tazilah. Sedangkan yang menganut faham Asy’ariyah hanya sebagian kecil sahaja. Namun demikian, kadar ke-Mu’tazilahan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari kadar tinggi, sedang, dan rendah. Tak seorangpun responden yang dapat dikatakan sebagai penganut Mu’tazilah atau Asy’ariyah murni. Selain itu, ditemukan pula bahwa proses pendidikan tersebut terbukti berpengaruh terhadap tingginya kadar ke-Mu’tazilahan di kalangan mereka.
Sedangkan M. Basir dalam disertasinya yang berjudul Takdir Tuhan dan Perbuatan Manusia (Studi Korelasional anta Faktor-faktor Pendidikan dan Pola Pemahaman Teologi Para Da’i di Kotamadya Ujung Pandang) (1999), menjelaskan tentang perkembangan baru pemahaman teologi Islam di Indonesia. Berdasarkan hasil penyelidikannya dapat dikatakan bahwa pada dasarnya pola pemahaman teologi Islam yang berkembangdi Kotamadya Ujung Pandang khususnya yang menyangkut takdir Tuhan dan perbuatan manusia dapat dikategorikan atas tiga pola pemahaman teologi dengan persentase masing-masing: Jabariyah 12,57%, Ahl-al-Sunnah wa al-Jama’ah 41,92%, dan Mu’tazilah 45,51%. Tingkat pendidikan para da’i menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan semua indikator pola pemahaman teologi. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden semakin cenderung menganut pola pemahaman teologi rasional. Responden yang berlatar belakang jenis pendidikan umum lebih cenderung menganut pola pemahaman teologi rasional dan liberal daripada responden yang berlatar belakang jenis pendidikan keagamaan. Responden yang berlatar belakang ormas Islam Nahdatul Ulama lebih cenderung menganut pola pemahaman teologi tradisional Ahl al-Sunnah wa-al-Jama’ah. Sementara itu, responden yang berlatar belakang ormas Islam lainnya pada umumnya lebih cenderung menganut pola pemahaman teologi rasional dan liberal.
Zuly Qodir dalam bukunya yang berjudul Agam dan Etos Dagang (2002), menjelaskan tentang relasi antara ajaran agama yang dipahami dengan kegiatan mereka sebagai pengusaha atau pedagang. Kajian dalam buku ini tampaknya dipusatkan pada dua level. Pertama,level yang akan mengelaborasi beberapa paham ajaran yang dianut para pengusaha dan pedagang. Sedangkan level kedua yang dianggap sebagai akibat dari level pertama, iaitu mengkaji pengaruh paham keagamaan yang dianut dengan aktiviti sehari-hari. Pada level pertama, penulis tidak mengemukakan dalil-dalil atau dasar-dasar teologisnya, namun lebih mengutamakan praktek-praktek keagamaannya. Sedangkan level kedua lebih diarahkan pada praktek sehari-hari sebagai pengusaha maupun pedagang.








* Sila baca Maklumat Mengenai Peruntukan Penyelidikan Jangka Pendek (PJP) Universiti Malaya sebelum mengisi borang ini

BORANG PERMOHONAN PERUNTUKAN PENYELIDIKAN JANGKA PENDEK (PJP) UNIVERSITI MALAYA


1. Nama (seperti dalam kad pengenalan)

A N I S A T U L M A R D I A H



2. No Kad Pengenalan Pemohon / No Pasport

N 5 9 8 3 8 9

3. Jantina Lelaki Perempuan

4. Taraf Perkahwinan Bujang Berkahwin

5. Warganegara :
I N D O N E S I A

6. No. Telefon / Faks:
T E L : 0 0 6 2 7 1 1 4 1 2 2 6 2
F A X :

7. Email

A N I S A _ T U L @ Y A H O O . C O M

8. Fakulti:AKADEMI PENG.ISLAM Jabatan/Bahagian: AKIDAH & PEM.ISLAM

9. Status Pelajar Ijazah Tinggi/ Tetap Sementara
Pemohon Pengajar.
Nyatakan PhD atau Sarjana : PhD

Pensyarah Tetap Kontrak Sementara


Prof. Madya Tetap Kontrak


Profesor Tetap Kontrak


Kakitangan Bukan Tetap Kontrak
Akademik

10. Pemohon adalah Kakitangan yang mengambil Ijazah Tinggi
Kakitangan yang tidak mengambil Ijazah Tinggi

11. Penyelidik Bersama jika ada:

Nama (seperti dalam kad pengenalan)






12. Status Projek Baru
Projek
Projek sedang dijalankan/sambungan



13. Ruangan 13(a), 13(b) dan 13(c) diisi oleh Calon Ijazah Tinggi sahaja.


(a) Nama Penyelia

Penyelia 1

P R O F M A D Y A D R K H A D I J A H

M O H D H A M B A L I @ H A M B A L I

Penyelia 2





(b) Ijazah Tinggi yang diambil Secara Kursus Sahaja

Secara Disertasi Sahaja

Secara Kursus dan Disertasi

hari bulan tahun
(c) Tarikh Pendaftaran


Tarikh dijangka siap

*Untuk komponen penyediaan disertasi, sila nyatakan tempoh penyelidikan dan tarikh dijangka bermula.

Tempoh Tarikh mula

Catatan : Bagi penuntut Ijazah Tinggi, Penyelia akan bertanggungjawab sepenuhnya bagi sebarang perbelanjaan peruntukan yang diterima.







14. Bidang Penyelidikan :AGAMA DAN MASYARAKAT
15. Tajuk Penyelidikan :
‘PENGARUH IDEOLOGI TEOLOGIS TERHADAP ETOS KERJA
PENENUN SONGKET PALEMBANG’

Tidak ada komentar: